Kitab al adabul mufrad hadits ke 156-164 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah

 Kitab Adabul mufrad

Karya Muhammad bin Ismail Al bukhari (Imam Bukhari) 



(82) Bab berbuat baik pada pembantu

بَابُ حُسْنِ الْمَلَكَةِ

Hadits 156

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الْفَضْلِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا نُعَيْمُ بْنُ يَزِيدَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لَمَّا ثَقُلَ قَالَ‏:‏ يَا عَلِيُّ، ائْتِنِي بِطَبَقٍ أَكْتُبْ فِيهِ مَا لاَ تَضِلُّ أُمَّتِي بَعْدِي، فَخَشِيتُ أَنْ يَسْبِقَنِي فَقُلْتُ‏:‏ إِنِّي لَأَحْفَظُ مِنْ ذِرَاعَيِ الصَّحِيفَةِ، وَكَانَ رَأْسُهُ بَيْنَ ذِرَاعِي وَعَضُدِي، فَجَعَلَ يُوصِي بِالصَّلاَةِ وَالزَّكَاةِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، وَقَالَ كَذَاكَ حَتَّى فَاضَتْ نَفْسُهُ، وَأَمَرَهُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، مَنْ شَهِدَ بِهِمَا حُرِّمَ عَلَى النَّارِ‏.‏

  ضـعـيـف   (الألباني) حكم

156."Ali bin Talib meriwayatkan bahwa ketika penyakit Nabi, semoga Allah memberinya rahmat dan keselamatan, semakin parah, beliau berkata, “'Ali! Bawakan aku selembar kertas untuk menulis sesuatu bagi umatku agar mereka tidak tersesat.” Ali berkata, “Aku khawatir beliau akan wafat sebelum aku sempat melakukannya, jadi aku berkata, ‘Aku akan mengingatnya lebih baik daripada kertas itu.’ Kepalanya berada di antara lengan bawah dan kakiku. Beliau menganjurkan salat, zakat, dan perlakuan baik terhadap hamba. Beliau berbicara seperti itu sampai beliau wafat.” Beliau memerintahkannya untuk bersaksi, “Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Siapa pun yang bersaksi tentang itu akan selamat dari api neraka.” (Syaikh Albani: Dhoif)

Keterangan hadits:

  • Perawi Nu'aim bin Yazid dia ini marhua yakni tidak di kenal.
  • Di lafaz ini di tuliskan " Ali bin abi thalib sholaawatu llohu alaih" Ini kesalahan penulis dalam Kitab Adabul mufrad ini, bukan kesalahan dari Imam Bukhari  sendiri.
  • Hadits ini dhoif, di dalam nya disebutkan bahwa Rosulullah meninggal dalam pangkuan Ali bin abi thalib, sementara dalam hadits shohih Rosulullah meninggal di pangkuan Aisyah radhiyallahu Anha.

Hadits 157: Larangan Memukul Muslimin

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ‏:‏

أَجِيبُوا الدَّاعِيَ ، وَلا تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ ، وَلا تَضْرِبُوا الْمُسْلِمِينَ

157.“Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Jawablah orang yang mengundang (menghandiri undangan), jangan menolak hadiah, jangan kalian memukul orang-orang Islam.”  (Syaikh Albani: Shahih)

Faidah hadits:

  • Kata para Ulama undangan yang wajib itu adalah undangan walimah  pernikahan.
  • Menghadiri undangan pernikahan itu wajib dengan syarat: Pertama; Selama kita bisa dan tidak ada halangan sama sekali.                  Kedua; Undangan itu tidak di luar kota yang mana kita harus bersafar.                             Ketiga; Di tempat walimah itu tidak ada kemaksiatan.
  • Dilarang kita untuk menolak hadiah. Dan Dalam hadits lain di sebutkan,                         Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ;                                         تَهَادَوْا تَحَابُّوا                            “Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)
  • Rosulullah tidak pernah memukul pembantu, perempuan, betapa mulia nya akhlak Rosulullah. Sebagaimana Alloh berfirman:       لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا                        "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."Qs.Al Azhab:21

Jadi seorang majikan atau orang yang memiliki kekuasaan jangan mudah-mudah memukul pembantu atau bawahan kita.

Hadits 158

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلاَمٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ مُغِيرَةَ، عَنْ أُمِّ مُوسَى، عَنْ عَلِيٍّ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ قَالَ‏:‏ كَانَ آخِرُ كَلاَمِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم‏:‏ الصَّلاَةَ، الصَّلاَةَ، اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ‏.‏

  صـحـيـح   (الألباني)

158."Ali meriwayatkan bahwa kata-kata terakhir Nabi (ketika mau wafat) , semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, adalah: "Shalat! Shalat! Takutlah kepada Allah dalam hal budak-budak mu"(Syaikh Albani : Shahih)

Faidah hadits:

  • Jagalah sholat niscaya Alloh Akan menjaga semua urusan-urusan kita, menjaga keluarga kita, menjaga anak cucu kita.  Alloh berfirman:   حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ    Jagalah oleh kalian dengan sungguh-sungguh shalat lima waktu terutama shalat wustha (ashar). Dan berdirilah kepada Allah dengan penuh kekhusyu’an." Qs. Al Baqarah:238

(83) Bab Berbuat Buruk kepada Pembantu atau Budak

 (باب سوء المِلكة)

Hadits 159

Atsar tentang Orang yang Baik dan Buruk di Antara Manusia

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ صَالِحٍ قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ لِلنَّاسِ‏:‏ نَحْنُ أَعْرَفُ بِكُمْ مِنَ الْبَيَاطِرَةِ بِالدَّوَابِّ ، قَدْ عَرَفْنَا خِيَارَكُمْ مِنْ شِرَارِكُمْ . أَمَّا خِيَارُكُمُ : الَّذِي يُرْجَى خَيْرُهُ ، وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ . وَأَمَّا شِرَارُكُمْ : فَالَّذِي لا يُرْجَى خَيْرُهُ ، وَلا يُؤْمَنُ شَرُّهُ ، وَلا يُعْتَقُ مُحَرَّرُهُ

صحيح الإسناد موقوفا ، وقد صح منه مرفوعا جملة الخيار والشرار دون العتق   (الألباني)

159.“Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata kepada orang-orang: Kami lebih mengerti terhadap kalian, daripada dokter hewan terhadap hewan-hewannya. Kami sudah tahu mana orang-orang baik dan mana orang-orang jahat di antara kalian: Orang yang baik di antara kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan manusia merasakan aman dari kejahatannya. Orang yang jahat di antara kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya, manusia merasakan tidak aman dengannya, dan budak yang dibebaskan olehnya seperti tidak dibebaskan (masih memanfaatkan budak tersebut, dst).”(Shahih) 

Hadits 160

حَدَّثَنَا عِصَامُ بْنُ خَالِدٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَرِيزُ بْنُ عُثْمَانَ، عَنِ ابْنِ هَانِئٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، سَمِعْتُهُ يَقُولُ‏:‏ الْكَنُودُ‏:‏ الَّذِي يَمْنَعُ رِفْدَهُ، وَيَنْزِلُ وَحْدَهُ، وَيَضْرِبُ عَبْدَهُ‏.‏

  ضعيف موقوفا ، وروي عنه مرفوعا بسند واه جدا   (الألباني)

160."Abu Umama berkata, “Sifat tidak tahu berterima kasih ditandai oleh seseorang yang menolak memberi, hidup sendirian, dan memukuli budaknya.”

Faidah hadits:

  • Atsar ini walaupun dhoif tapi secara maknanya benar yakni orang yang kufur nikmat terkadang hidup nya tidak ingin berbagi, memberi terhadap orang lain, apa-apapun dinikmati nya sendiri dan suka memukul budaknya. Padahal budaknya tersebut sudah melayani, membantu dia.

Hadits 161

حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، وَحَمَّادٍ، عَنْ حَبِيبٍ، وَحُمَيْدٍ، عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ رَجُلاً أَمَرَ غُلاَمًا لَهُ أَنْ يَسْنُوَ عَلَى بَعِيرٍ لَهُ، فَنَامَ الْغُلاَمُ، فَجَاءَ بِشُعْلَةٍ مِنْ نَارٍ فَأَلْقَاهَا فِي وَجْهِهِ، فَتَرَدَّى الْغُلاَمُ فِي بِئْرٍ، فَلَمَّا أَصْبَحَ أَتَى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَرَأَى الَّذِي فِي وَجْهِهِ، فَأَعْتَقَهُ‏.

ضـعـيـف   (الألباني)

161."Al-Hasan al-basri meriwayatkan bahwa seorang pria memerintahkan salah satu budaknya untuk mengambil air menggunakan salah satu untanya dan budak itu tertidur. Sang tuan datang dengan bara api lalu di lemparkan ke wajah budak itu, lalu budak itu jatuh ke dalam sumur. Keesokan paginya, budak itu pergi menemui Umar bin al-Khattab dan Umar melihat bekas di wajahnya, lalu Umar membebaskannya.

(Syaikh Albani : Dhoif)

Keterangan hadits:

  • Atsar ini dhoif karena Hassan Al basri memang tidak bertemu dengan umar bin Khattab. Namun makna pada atsar tersebut mungkin saja terjadi sebagaimana pada zaman sekarang, banyak majikan-majikan yang berbuat zhalim terhadap para pembantu nya.

(84) Bab Menjual Budak pada Arab Badui

بَابُ بَيْعِ الْخَادِمِ مِنَ الأعْرَابِ

Hadits 162

Atsar tentang Menjual Budak yang Jahat

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنِ ابْنِ عَمْرَةَ، عَنْ عَمْرَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا دَبَّرَتْ أَمَةً لَهَا ، فَاشْتَكَتْ عَائِشَةُ ، فَسَأَلَ بَنُو أَخِيهَا طَبِيبًا مِنَ الزُّطِّ ، فَقَالَ : إِنَّكُمْ تُخْبِرُونِي عَنِ امْرَأَةٍ مَسْحُورَةٍ ، سَحَرَتْهَا أَمَةٌ لَهَا ، فَأُخْبِرَتْ عَائِشَةُ ، قَالَتْ : سَحَرْتِينِي ؟ فَقَالَتْ : نَعَمْ ، فَقَالَتْ : وَلِمَ ؟ لا تَنْجَيْنَ أَبَدًا ، ثُمَّ قَالَتْ : بِيعُوهَا مِنْ شَرِّ الْعَرَبِ مَلَكَةً

162.“‘Dari ‘Amrah Al-Anshariyyah rahimahullah: Aisyah radhiyallahu ‘anha menjanjikan bebas untuk budaknya jika dirinya telah meninggal. Kemudian ‘Aisyah sakit setelah melakukan hal itu. Akhirnya, keponakan-keponakannya mencari tabib India. Orang yang (mengaku) tabib mengatakan, “Engkau memberitahuku tentang kondisi seseorang yang kena sihir. Orang yang telah menyihir dia adalah budaknya.” Kemudian ‘Aiysah diberi tahu, (‘Aisyah tidak mempercayainya, sehingga) ‘Aisyah bertanya kepada budaknya, “Engkau menyihirku?” Budak menjawab, “Iya.” ‘Aisyah bertanya, “Kenapa engkau menyihirku? Kau tidak akan selamat selama-lamanya (tidak akan bebas).” ‘Aisyah berkata, “Jual budak ini kepada orang-orang Arab yang terkenal tidak baik perlakuannya kepada budaknya.””(Shahih) 

Faidah hadits:

  • Para pembantu ketika kita mendapatkan majikan yang baik maka hendaklah di hargai jangan sampai kufur nikmat. Bersyukurlah jika kita masih bisa bekerja dan berusaha sehingga mendapat penghasilan. Sehingga, saat bekerja lakukanlah dengan baik dan bersungguh-sungguh. Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah  bersabda:                                             اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ "Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (sungguh-sungguh)”. (HR. Thabrani dan Baihaqi).
  • Orang arab dulu ketika punya budak kemudian bila majikan wafat maka budak nya jatuh pada ahli warisnya.Namun kebaikan Aisyah sebagai majikan dari budaknya yakni apabila beliau wafat maka Aisyah memerdekakan bukannya.
  • Menjual budak yang jahat pada majikan yang jahat atau berperilaku buruk maka di boleh kan dengan syarat yang syar'i, sebagaimana budaknya Aisyah ini dia melakukan sihir maka Aisyah menjual nya. Padahal orang yang melakukan sihir hukuman nya di penggal,namun berkat kebaikan Aisyah beliau menjual nya. Namun bila seorang budak yang berperilaku baik tatkala majikan ingin menjual nya maka jual lah pada majikan yang baik pula.

(85) Bab Memaafkan Pembantu dan Budak (بَابُ الْعَفْوِ عَنِ الْخَادِمِ)

Hadits 163

حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، هُوَ ابْنُ سَلَمَةَ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا أَبُو غَالِبٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، أَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهُ غُلامَانِ ، فَوَهَبَ أَحَدُهُمَا لِعَلِيٍّ ، صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ ، وَقَالَ : لا تَضْرِبْهُ ، فَإِنِّي نُهِيتُ عَنْ ضَرْبِ أَهْلِ الصَّلاةِ ، وَإِنِّي رَأَيْتُهُ يُصَلِّي مُنْذُ أَقْبَلْنَا ، وَأَعْطَى أَبَا ذَرٍّ غُلامًا ، وَقَالَ : اسْتَوْصِ بِهِ مَعْرُوفًا ، فَأَعْتَقَهُ ، فَقَالَ : مَا فَعَلَ ؟ قَالَ : أَمَرْتَنِي أَنْ أَسْتَوْصِي بِهِ خَيْرًا ، فَأَعْتَقْتُهُ

163.“Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datamg : Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang membawa 2 budak, yang 1 diberikan kepada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, dan Rasul berpesan kepada ‘Ali, “Jangan engkau pukul budak ini. Aku dilarang untuk memukul orang-orang yang shalat dan aku lihat sejak kita berangkat dia melaksanakan shalat.” Dan lainnya diberikan kepada Abu Dzar dam Nabi berpesan kepada Abu Dzar, “Aku mewasiatkan agar berbuat baik kepada budak ini.” Maka oleh Abu Dzar dibebaskan budak tersebut. Suatu saat, Nabi bertanya, “Apa yang dilakukan budakmu itu?” Abu Dzar menjawab, “Wahai Rasulullah, “Engkau memerintahkan dan berwasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada dia, maka aku membebaskannya.””(Syaikh Albani: Hasan)

Hadits 164

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ‏:‏ قَدِمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَلَيْسَ لَهُ خَادِمٌ، فَأَخَذَ أَبُو طَلْحَةَ بِيَدِي، فَانْطَلَقَ بِي حَتَّى أَدْخَلَنِي عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ‏:‏ يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّ أَنَسًا غُلاَمٌ كَيِّسٌ لَبِيبٌ، فَلْيَخْدُمْكَ‏.‏ قَالَ‏:‏ فَخَدَمْتُهُ فِي السَّفَرِ وَالْحَضَرِ، مَقْدَمَهُ الْمَدِينَةَ حَتَّى تُوُفِّيَ صلى الله عليه وسلم، مَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ صَنَعْتُ‏:‏ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا هَكَذَا‏؟‏ وَلاَ قَالَ لِي لِشَيْءٍ لَمْ أَصْنَعْهُ‏:‏ أَلاَ صَنَعْتَ هَذَا هَكَذَا‏؟‏‏.

صـحـيـح   (الألباني)

164."Anas berkata, "Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallam datang ke Madinah tanpa seorang pelayan pun. Abu Talha memegang tanganku dan membawaku kepada Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallam, lalu berkata, 'Wahai Nabi! Ini Anas, seorang anak yang cerdas dan pintar. Biarkan dia melayani beliau.'" Anas berkata, "Aku melayani beliau ketika beliau berada di rumah dan dalam perjalanan sejak beliau datang ke Madinah hingga beliau wafat. Beliau tidak pernah bertanya kepadaku tentang apa pun yang telah kulakukan, 'Mengapa kamu melakukan ini?' dan juga tidak pernah bertanya kepadaku tentang sesuatu yang belum kulakukan, 'Mengapa kamu tidak melakukan ini dan itu?'"(Syaikh Albani: Shahih)

Faidah hadits:

  • Abu thalhah menjadikan anas pembantu Rosulullah diantara tujuannya adalah supaya anas bisa berguru langsung pada Rosulullah, dan ini terbukti bahwasanya anas bin malik salah satu dari sahabat Rosulullah yang memiliki hafalan ribuan hadits.
  • Rosulullah sangat sabar terhadap anas sahabat yang melayani beliau, Rosulullah tidak pernah marah atau menegur anas selama kurang lebih 10 tahun.
  • Apabila pembantu melakukan kesalahan atau lupa dalam kaitan pelayanan pribadi majikan maka maafkan lah, seperti lupa tidak menyiapkan makanan dll. Tapi kalau melakukan kesalahan dalam masalah syariat maka sebagai majikan harus menegur dan menasihati nya, contoh; pembantu yang tidak sholat atau mencuri maka wajib untuk di tegur. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafkhim dan tarqiq (huruf isti'la) || bag.1

Mad thobi'i dan mad badal

Mad shilah qosiroh dan mubaalaghoh