Kitab al adabul mufrad hadits ke 147-155 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah

 Kitab Adabul mufrad

Karya Muhammad bin Isma'il Al bukhari ( Imam Bukhari) 


Hadits 147

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللهِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ طَلْقَ بْنَ مُعَاوِيَةَ، هُوَ جَدُّهُ، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ أَبَا زُرْعَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ امْرَأَةً أَتَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بِصَبِيٍّ فَقَالَتِ‏:‏ ادْعُ اللَّهَ لَهُ، فَقَدْ دَفَنْتُ ثَلاَثَةً، فَقَالَ‏:‏ احْتَظَرْتِ بِحِظَارٍ شَدِيدٍ مِنَ النَّارِ‏.‏

147. "Dari Abu Hurayra meriwayatkan bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam dengan seorang anak. Ia berkata, "Panjatkan doa untuknya. Aku telah menguburkan tiga anak." Beliau bersabda, "Engkau telah membangun penghalang yang kuat dari api neraka."    (Syaikh Albani berkata: Shahih) 

Keterangan hadits:

  • Perawi Hafs bin ghiyats di ceritakan bahwa dia adalah seorang hakim yang adil. 

  • Perawi Tholaq bin mu'awiyah ini di sebutka oleh Ibnu Hibban dalam kitab tsiqot nya dia termasuk orang yang tsiqoh. 

Faidah hadits:

  • Seorang muslim itu boleh kita bertawassul dengan manusia, tetapi syaratnya manusia itu masih hidup dan berada di tempat mendengar ucapan kita. Seperti shahabiyah pada hadits ini dia tidak Memangil- memangil Rosululloh di rumahnya, tapi dia datang menjumpai Nabi dan meminta untuk memanjatkan doa untuk anaknya. Seperti inilah bertawassul yang di syariat kan.                                                         Kalau orang itu sudah meninggal maka tidak boleh kita bertawassul padanya. Bahkan kita yang harus mendoakan dia sebagaimana doa ketika sholat jenazah  اللهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ                                                                              "Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, rahmatilah dia, lindungilah dia, dan maafkanlah dia...... " Dan seterusnya. 

  • Ketika kita mendapatkan musibah di bolehkan mendatangi seorang 'Alim untuk mengadukan kesedihan kita agar mendapatkan nasihat dan bimbingan ke imanan dalam menghadapi musibah. 

Hadits 148

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ‏:‏ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا لاَ نَقْدِرُ عَلَيْكَ فِي مَجْلِسِكَ، فَوَاعِدْنَا يَوْمًا نَأْتِكَ فِيهِ، فَقَالَ‏:‏ مَوْعِدُكُنَّ بَيْتُ فُلاَنٍ، فَجَاءَهُنَّ لِذَلِكَ الْوَعْدِ، وَكَانَ فِيمَا حَدَّثَهُنَّ‏:‏ مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ يَمُوتُ لَهَا ثَلاَثٌ مِنَ الْوَلَدِ، فَتَحْتَسِبَهُمْ، إِلاَّ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ، فَقَالَتِ امْرَأَةٌ‏:‏ أَوِ اثْنَانِ‏؟‏ قَالَ‏:‏ أَوَِ اثْنَانِ كَانَ سُهَيْلٌ يَتَشَدَّدُ فِي الْحَدِيثِ وَيَحْفَظُ، وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ يَقْدِرُ أَنْ يَكْتُبَ عِنْدَهُ‏.

148. "Dari Abu Hurayra meriwayatkan, "Seorang wanita datang kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah! Kami tidak dapat duduk bersama Anda(karena ada sahabat laki-laki duduk), maka tetapkanlah suatu hari agar kami dapat datang(menuntut ilmu).' Beliau bersabda, 'Tempat yang telah ditentukan untuk kalian adalah rumah si fulan.' Beliau kemudian menemui para wanita pada waktu itu. Sebagian dari apa yang beliau sampaikan kepada mereka adalah, 'Tidak ada seorang wanita di antara kalian yang meninggal dunia setelah tiga anaknya meninggal dan menyerahkan mereka kepada Allah, yang tidak akan masuk surga.' Seorang wanita bertanya, 'Bagaimana jika dua anaknya?' Beliau menjawab, 'Bagaimana jika dua anaknya juga?'"

Faidah hadits ini:

  • Semangat nya para shahabiyat untuk menuntut ilmu dan di perbolehkan nya wanita mempunyai tempat khusus untuk menuntut ilmu.
  • Diperbolehkan bahkan di syariat kan mengadakan kajian bagi wanita di rumah-rumah, terkecuali kondisi rumahnya sempit tidak cukup maka boleh di masjid.                    (Di sini di sebutkan tentang perawi hadits)Suhail sangat tegas dalam berbicara hadits dan menghafalnya, dan tidak seorang pun mampu menulis apa pun di hadapannya.(Shahih)

Hadits 149

حَدَّثَنَا حَرَمِيُّ بْنُ حَفْصٍ، وَمُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالاَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ عَامِرٍ الأَنْصَارِيُّ قَالَ‏:‏ حَدَّثَتْنِي أُمُّ سُلَيْمٍ قَالَتْ‏:‏ كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ‏:‏ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَمُوتُ لَهُمَا ثَلاَثَةُ أَوْلاَدٍ، إِلاَّ أَدْخَلَهُمَا اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ، قُلْتُ‏:‏ وَاثْنَانِ‏؟‏ قَالَ‏:‏ وَاثْنَانِ‏.‏

149. "Umm Salim berkata, "Ketika aku bersama Nabi, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, beliau bersabda, 'Umm Salim! Tidak ada pasangan Muslim yang kehilangan tiga anak mereka tanpa Allah memasukkan mereka ke dalam Surga karena rahmat-Nya.' Aku bertanya, 'Bagaimana jika hanya dua?' Beliau menjawab, 'dua pun termasuk juga.'" (Shahih)

Hadits 150

حَدَّثَنَا عَلِيٌّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ‏:‏ قَرَأْتُ عَلَى الْفُضَيْلِ‏:‏ عَنْ أَبِي حَرِيزٍ، أَنَّ الْحَسَنَ حَدَّثَهُ بِوَاسِطَ، أَنَّ صَعْصَعَةَ بْنَ مُعَاوِيَةَ حَدَّثَهُ، أَنَّهُ لَقِيَ أَبَا ذَرٍّ مُتَوَشِّحًا قِرْبَةً، قَالَ‏:‏ مَا لَكَ مِنَ الْوَلَدِ يَا أَبَا ذَرٍّ قَالَ‏:‏ أَلاَ أُحَدِّثُكَ‏؟‏ قُلْتُ‏:‏ بَلَى، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ‏:‏ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ لَهُ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ، إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ إِيَّاهُمْ، وَمَا مِنْ رَجُلٍ أَعْتَقَ مُسْلِمًا إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّ عُضْوٍ مِنْهُ، فِكَاكَهُ لِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ‏.‏

150. "Al-Hasan meriwayatkan bahwa Sa'sa'a ibn Mu'awiya mengatakan kepadanya bahwa ia bertemu Abu Dharr dan mendapatinya sendirian tanpa kerabat, lalu bertanya, "Apakah engkau mempunyai anak, Abu Dharr?" Abu Dharr menjawab, "Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, 'Tidak ada seorang Muslim pun yang tiga anaknya meninggal sebelum mencapai usia baligh melainkan Allah memasukkannya ke dalam Surga karena rahmat-Nya. Tidak ada seorang pun yang membebaskan seorang Muslim melainkan Allah menjadikan setiap anggota tubuh orang yang dibebaskan sebagai tebusan untuk setiap anggota tubuh orang yang membebaskan.'" (Shahih)

Hadits 151

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي الأَسْوَدِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ عُمَارَةَ الأَنْصَارِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ‏:‏ مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلاَثَةٌ لَمْ يَبْلُغُوا الْحِنْثَ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ وَإِيَّاهُمْ بِفَضْلِ رَحْمَتِهِ الْجَنَّةَ‏.‏

151. "Dari Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, "Jika seseorang memiliki tiga anak yang meninggal sebelum mencapai usia baligh, Allah akan memasukkan dia dan anak-anaknya ke dalam Surga berkat rahmat-Nya."(shahih)

Faidah hadits 150-151:

  • Seorang muslim dia masuk surga karena rahmat Alloh.

(Referensi artikel rumahsho.com )

Dalam hadits disebutkan,

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816)

Sedangkan firman Allah Ta’ala,

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al Hadiid: 21). Dalam ayat ini dinyatakan bahwa surga itu disediakan bagi orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Berarti ada amalan.

Begitu pula dalam ayat,

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan” (QS. An-Nahl: 32)

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)

Seakan-akan ayat dan hadits itu bertentangan. Ayat menyatakan, kita masuk surga karena amalan dan keimanan kita. Sedangkan hadits menyatakan, faktor terbesar masuk surga adalah karena karunia Allah.

Ada beberapa penjelasan para ulama mengenai hal ini:

  • Yang dimaksud seseorang tidak masuk surga dengan amalnya adalah peniadaan masuk surga karena amalan.

  • Amalan itu sendiri tidak bisa memasukkan orang ke dalam surga. Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah, tentu tidak akan bisa memasukinya. Bahkan adanya amalan juga karena sebab rahmat Allah bagi hamba-Nya.

  • Amalan hanyalah sebab tingginya derajat seseorang di surga, namun bukan sebab seseorang masuk ke dalam surga.

  • Amalan yang dilakukan hamba sama sekali tidak bisa mengganti surga yang Allah beri. Itulah yang dimaksud, seseorang tidak memasuki surga dengan amalannya. Maksudnya ia tidak bisa ganti surga dengan amalannya. Sedangkan yang memasukkan seseorang ke dalam surga hanyalah rahmat dan karunia Allah. (Disarikan dari Bahjah An-Nazhirin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, 1430 H, 3: 18-19).

Imam Nawawi rahimahullah memberikan keterangan yang sangat bagus, “Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Maka tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang ada. Bahkan makna ayat adalah masuk surga itu disebabkan karena amalan. Namun di situ ada taufik dari Allah untuk beramal. Ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Maka diterimanya amal memang karena rahmat dan karunia Allah. Karenanya, amalan semata tidak memasukkan seseorang ke dalam surga. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits. Kesimpulannya, bisa saja kita katakan bahwa sebab masuk surga adalah karena ada amalan. Amalan itu ada karena rahmat Allah. Wallahu a’lam.” (Syarh Shahih Muslim, 14: 145)

Jadi kita masuk surga bukan semata-mata dengan amalan kita. Amalan kita itu bisa ada karena taufik Allah. Taufik Allah itulah karunia dan rahmat-Nya. Jadinya, amalan itu ada karena karunia dan rahmat-Nya.

(81)Bab: Seseorang yang meninggal karena keguguran (بَابُ مَنْ مَاتَ لَهُ سَقْطٌ)

Hadits 152 (atsar dari Sahl bin hanzholiyah)

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ يَزِيدَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ أُمِّهِ، عَنْ سَهْلِ بْنِ الْحَنْظَلِيَّةِ، وَكَانَ لاَ يُولَدُ لَهُ، فَقَالَ‏:‏ لأَنْ يُولَدَ لِي فِي الإِسْلاَمِ وَلَدٌ سَقْطٌ فَأَحْتَسِبَهُ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يكُونَ لِيَ الدُّنْيَا جَمِيعًا وَمَا فِيهَا وَكَانَ ابْنُ الْحَنْظَلِيَّةِ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ‏.

152. "Dari Sahl ibn al-Hanzala, yang tidak memiliki anak, berkata, "Aku lebih memilih memiliki anak yang keguguran selagi aku seorang Muslim dan menyerahkan anak itu kepada Allah daripada memiliki seluruh dunia dan segala isinya."(shahih)

Keterangan hadits ini:

  • Sanad atsar ini dhoif dikarenakan ibundanya Yazid bin Abi Maryam marhua yakni tidak di kenal atau tidak diketahui.

Faidah atsar ini:

  • Termasuk juga orang yang di tinggal mati oleh anak nya masih dalam kandungan atau keguguran nanti sang anak akan menanti orang tuanya di pintu surga.
  • Harta sebanyak apapun yang kita miliki tidak berarti sedikitpun di banding surga Alloh subhanahu Wata'ala.

Hadits 153

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلاَمٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم‏:‏ أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ‏؟‏ قَالُوا‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، مَا مِنَّا مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِ وَارِثِهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم‏:‏ اعْلَمُوا أَنَّهُ لَيْسَ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلاَّ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ، مَالُكَ مَا قَدَّمْتَ، وَمَالُ وَارِثِكَ مَا أَخَّرْتَ‏.‏

153. "Dari Abdullah meriwayatkan bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, "Siapakah di antara kalian yang lebih menyukai harta warisan daripada harta miliknya sendiri?" "Wahai Rasulullah," jawab mereka, "tidak ada seorang pun di antara kami yang tidak lebih menyukai harta miliknya sendiri daripada harta warisannya." Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, "Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun di antara kalian yang tidak lebih menyukai harta warisannya daripada harta miliknya sendiri. Harta kalian adalah apa yang telah kalian belanjakan (untuk Allah) dan harta warisan kalian adalah apa yang kalian tinggalkan."(shahih)

Faidah hadits ini:

  • Diantara metode pembelajaran yakni dengan cara bertanya pada anak didik kita.
  • Sejatinya harta yang kita miliki ialah harta yang sudah di infikan di jalan Alloh.

Hadits 154

قَالَ‏:‏ وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم‏:‏ مَا تَعُدُّونَ فِيكُمُ الرَّقُوبَ‏؟‏ قَالُوا‏:‏ الرَّقُوبُ الَّذِي لاَ يُولَدُ لَهُ، قَالَ‏:‏ لاَ، وَلَكِنَّ الرَّقُوبَ الَّذِي لَمْ يُقَدِّمْ مِنْ وَلَدِهِ شَيْئًا‏.

154.Beliau berkata bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, "Siapakah di antara kalian yang dianggap tidak memiliki anak?" Mereka menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai anak." "Tidak," kata beliau, "Orang-orang yang tidak memiliki anak adalah mereka yang belum pernah beranak (yaitu, belum ada anak mereka yang meninggal)."(shahih)

Faidah hadits ini:

  • Rosulullah menegaskan pada kita bahwa orang yang di tinggal mati oleh anak itu hakikatnya dia telah mempunyai tabungan anak di akhirat yang bakal menyelamatkan dia.

Hadits 155

قَالَ‏:‏ وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم‏:‏ مَا تَعُدُّونَ فِيكُمُ الصُّرَعَةَ‏؟‏ قَالُوا‏:‏ هُوَ الَّذِي لاَ تَصْرَعُهُ الرِّجَالُ، فَقَالَ‏:‏ لاَ، وَلَكِنَّ الصُّرَعَةَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ‏.

155. Beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, "Menurut kalian siapakah yang paling sering mengalahkan orang (dalam perkelahian)?" Mereka menjawab, "Orang yang tangguh/tidak dikalahkan oleh orang lain." Beliau bersabda, "Bukan, orang yang tangguh itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah."

Alloh subhanahu wata'ala juga berfirman tentang sifat-sifat penghuni surga diantaranya :

وَالضَّرَّآءِ وَالۡكٰظِمِيۡنَ الۡغَيۡظَ وَالۡعَافِيۡنَ عَنِ النَّاسِ​ؕ

. . ... dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.... (Qs. Al imran :134) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafkhim dan tarqiq (huruf isti'la) || bag.1

Mad thobi'i dan mad badal

Mad shilah qosiroh dan mubaalaghoh