Kitab al adabul mufrad hadits ke 141-146 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah

 Kitab Adabul mufrad

Karya Muhammad bin Isma'il Al bukhari (Imam Bukhari) 


(78) Bab Keutamaan Wanita yang Bersabar Merawat Anaknya dan Dia Tidak Menikah

 (باب فضل المرأة إذا تصبرت على ولدها ولم تزوج)

Al-Imam Bukhari di sini menyebutkan sebuah hadits yang hadits ini di-dha’if-kan oleh sebagian ulama dan di-dha’if-kan oleh Syaikh Albani rahimahullahu Ta’ala. Namun oleh pentahqiq kitab Al-Musnad, dia dikatakan, “hasan lighairihi, insya Allah.” Hadits ini insya Allah hasan hukumnya, karena ada beberapa hadits lain yang mendukung hadits ini, namun secara sanadnya ada perawi yang dha’if.

Hadits ke 141

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ نَهَّاسِ بْنِ قَهْمٍ، عَنْ شَدَّادٍ أَبِي عَمَّارٍ، عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ‏:‏ أَنَا وَامْرَأَةٌ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ ، امْرَأَةٌ آمَتْ مِنْ زَوْجِهَا فَصَبَرْتَ عَلَى وَلَدِهَا ، كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ

141. "Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallaM bersabda: Aku dan seorang wanita yang di pipinya menghitam, seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya kemudian dia bersabar merawat anaknya, bagai dua jari ini di surga.”                                                                                      (Syaikh Albani berkata : Dhoif) 

Faidah hadits :

  • Seorang wanita yang sabar merawat anak nya ketika suami atau si ayah anaknya meninggal,  lalu dia tidak menikah lagi maka kelak di surga dia akan berdekatan dengan Rasulullah seperti dekatnya dua jari. Karena sama saja dia telah merawat anak yatim sebagaimana pada hadits shahih pada bab sebelumnya atau pada hadits yang ke 133

Dari Murrah Al-Fihri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

” أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ ، أَوْ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ ” . شَكَّ سُفْيَانُ فِي الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِي الإِبْهَامَ .

“Aku bersama orang yang menanggung / memelihara anak yatim di surga seperti dua jari ini atau seperti ini dari jari-jari ini.” Sufyan bimbang mengenai jari tengah dan jari telunjuk.

Seorang istri tatkala dia ditinggal wafat oleh suaminya memang tidak ada anjuran untuk dia menikah lagi, namun apabila ada laki-laki soleh untuk meminangnya maka dia boleh menikah, agar bisa merawat bersama-sama anak nya yang yatim. 

(79) Bab Mendidik Anak Yatim

 (باب أدب اليتيم) 

Hadits ke 142

حَدَّثَنَا مُسْلِمٌ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ شُمَيْسَةَ الْعَتَكِيَّةِ قَالَتْ‏:‏  ذُكِرَ أَدَبُ الْيَتِيمِ عِنْدَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، فَقَالَتْ : إِنِّي لأَضْرِبُ الْيَتِيمَ حَتَّى يَنْبَسِطَ

142. "Dari Syumaisah Al-‘Atakiyyah  rahimahullah“Diceritakan di hadapan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu tentang mendidik anak yatim, lalu ia berkata, “Aku benar-benar memukul anak yatim itu sampai dia rebahan.””                                        (Syaikh Albani berkata: Shahih

Faidah hadits:

  • Memukul anak itu ada syaratnya dalam islam sebagai mana hadits lain Rasululloh bersabda : مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ              "Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” [Abu Daud (no. 495) dan Ahmad (6650)

Berkaitan memukul anak yatim ini atau anak sendiri ada aturan sendiri dalam islam, seperti tidak boleh memukul sampai melukai, mematahkan tulang dan memukul wajah.                                                  Memukul anak dalam islam ini memukul dengan cinta kasih sayang memukul untuk mendidik bukan memukul dengan hawa nafsu melampiaskan kekesalan nya. 

(80) Bab Keutamaan Orang yang Ditinggal Mati oleh Anaknya

 (باب فضل من مات له الولد

Hadits ke 143

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنِ ابْنِ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ‏:‏  لا يَمُوتُ لأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ ثَلاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ ، فَتَمَسَّهُ النَّارُ ، إِلا تَحِلَّةَ الْقَسَمِ

143. "Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Tidaklah seorang dari kaum Muslimin yang ditinggal mati oleh 3 anaknya (dengan bersabar), kemudian dia disentuh oleh api neraka, kecuali untuk menghalalkan sumpah (kalaupun disentuh api neraka maka api menyentuhnya sedikit sekali).”                                                                                    (Syaikh Albani berkata: Shahih) 

Keterangan hadits ini:

- إِلا تَحِلَّةَ الْقَسَمِ (kecuali untuk menghalalkan sumpah) 

Sebagian 'Ulama berpendapat : menghalalkan sumpah Alloh Subhanahu wata'ala dalam Qr. Surat Maryam : 71 

وَاِنْ مِّنْكُمْ اِلَّا وَارِدُهَاۚ كَانَ عَلٰى رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّاۚ

"Tidak ada seorang pun di antaramu yang tidak melewatinya (sirat di atas neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah ketentuan yang sudah ditetapkan."

Jadi orang yang di tinggal mati oleh 3 anaknya lalu dia bersabar maka kelak dia akan selamat ketika melewati shirot atas izin Alloh. 

Hadits ke 144

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ طَلْقِ بْنِ مُعَاوِيَةَ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ امْرَأَةً أَتَتِ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم بِصَبِيٍّ فَقَالَتِ‏:‏ ادْعُ لَهُ، فَقَدْ دَفَنْتُ ثَلاَثَةً، فَقَالَ‏:‏ احْتَظَرْتِ بِحِظَارٍ شَدِيدٍ مِنَ النَّارِ‏. 

صـحـيـح   (الألباني)

144."Abu Hurayra meriwayatkan bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam dengan seorang anak. Ia berkata, "Panjatkan doa untuknya. Aku telah menguburkan tiga anak." Beliau bersabda, "Engkau telah membangun penghalang yang kuat terhadap api neraka."    (Syaikh Albani berkata: Shahih) 

Keterangan hadits:

  • Perawi Hafs bin ghiyats di ceritakan bahwa dia adalah seorang hakim yang adil. 
  • Perawi Tholaq bin mu'awiyah ini di sebutka oleh Ibnu Hibban dalam kitab tsiqot nya dia termasuk orang yang tsiqoh. 

Faidah hadits:

  • Seorang muslim itu boleh kita bertawassul dengan manusia, tetapi syaratnya manusia itu masih hidup dan berada di tempat mendengar ucapan kita. Seperti shahabiyah pada hadits ini dia tidak Memangil- memangil Rosululloh di rumahnya, tapi dia datang menjumpai Nabi dan meminta untuk memanjatkan doa untuk anaknya. Seperti inilah bertawassul yang di syariat kan.                                                         Kalau orang itu sudah meninggal maka tidak boleh kita bertawassul padanya. Bahkan kita yang harus mendoakan dia sebagaimana doa ketika sholat jenazah  اللهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ                                                                              "Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, rahmatilah dia, lindungilah dia, dan maafkanlah dia...... " Dan seterusnya. 
  • Ketika kita mendapatkan musibah di bolehkan mendatangi seorang 'Alim untuk mengadukan kesedihan kita agar mendapatkan nasihat dan bimbingan ke imanan dalam menghadapi musibah. 

Hadits ke 145

حَدَّثَنَا عَيَّاشٌ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ خَالِدٍ الْعَبْسِيِّ قَالَ‏:‏ مَاتَ ابْنٌ لِي، فَوَجَدْتُ عَلَيْهِ وَجَدَا شَدِيدًا، فَقُلْتُ‏:‏ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، مَا سَمِعْتَ مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم شَيْئًا تُسَخِّي بِهِ أَنْفُسَنَا عَنْ مَوْتَانَا‏؟‏ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ‏:‏ صِغَارُكُمْ دَعَامِيصُ الْجَنَّةِ‏.‏

صـحـيـح   (الألباني)

145. Dari Khalid al-'Absi berkata, "Seorang putraku meninggal dan aku merasakan kesedihan yang mendalam atas kehilangannya. Aku berkata, 'Abu Hurayra, apakah engkau pernah mendengar sesuatu dari Nabi, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, untuk menghibur kita terkait orang-orang yang telah meninggal?' Beliau menjawab, 'Aku mendengar Nabi, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, bersabda, "Anak-anakmu berkeliaran dengan bebas di Surga."'"                              (Syaikh Albani berkata: Shahih) 

Hadits ke 146

حَدَّثَنَا عَيَّاشٌ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ‏:‏ مَنْ مَاتَ لَهُ ثَلاَثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ فَاحْتَسَبَهُمْ دَخَلَ الْجَنَّةَ، قُلْنَا‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، وَاثْنَانِ‏؟‏ قَالَ‏:‏ وَاثْنَانِ، قُلْتُ لِجَابِرٍ‏:‏ وَاللَّهِ، أَرَى لَوْ قُلْتُمْ وَاحِدٌ لَقَالَ‏.‏ قَالَ‏:‏ وَأَنَا أَظُنُّهُ وَاللَّهِ‏.‏

حـسـن   (الألباني)

146. Dari Jabir bin Abdullah berkata, "Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, 'Jika seseorang memiliki tiga anak yang meninggal di usia muda dan menyerahkan mereka kepada Allah, maka ia akan masuk surga.' Kami bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana dengan dua anak?' 'Dan dua anak,' jawab beliau." Mahmud bin Labid berkata kepada Jabir, "Demi Allah, aku yakin jika engkau bertanya, 'Dan satu anak?' beliau akan memberikan jawaban yang sama." Jabir menjawab, "Demi Allah, aku juga yakin."                                             (Syaikh Albani berkata: Hasan) 

Keterangan hadits:

  • Dalam hadits lain yang di maksud ditinggal mati anak ini yaitu anak yang belum baligh, adapun anak yang sudah baligh para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan termasuk juga. Namun secara Nash hadits yang di maksud anak yang belum baligh. 

Dalam artikel muslim.or.id

Ditinggal mati kerabat, sahabat, dan orang-orang yang dicintai apalagi Anak sendiri memang bisa menimbulkan kesedihan yang teramat dalam. Akan tetapi, sebagai seorang mukmin, kita wajib menerima segala ketetapan Allah Ta’ala tersebut. Sehingga, kita pun terhindar dari sikap marah, jengkel, dan tidak rida dengan takdir tersebut. Meskipun demikian, sebagai manusia biasa, wajar saja jika kita ingin menangis meneteskan air mata sebagai tanda sedihnya hati kita dengan berpulangnya kerabat atau sahabat yang kita cintai. Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

شَهِدْنَا بِنْتًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ عَلَى القَبْرِ، قَالَ: فَرَأَيْتُ عَيْنَيْهِ تَدْمَعَانِ، قَالَ: فَقَالَ: «هَلْ مِنْكُمْ رَجُلٌ لَمْ يُقَارِفِ اللَّيْلَةَ؟» فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ: أَنَا، قَالَ: «فَانْزِلْ» قَالَ: فَنَزَلَ فِي قَبْرِهَا

“Kami menyaksikan pemakaman putri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” Dia (Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) berkata, “Dan saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di sisi liang lahat.” Dia (Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) berkata, “Lalu aku melihat kedua mata beliau mengucurkan air mata.” Dia (Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu) berkata, “Maka beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian yang malam tadi tidak berhubungan (dengan istrinya)?” Abu Thalhah berkata, “Aku.” Beliau berkata, “Turunlah engkau ke lahat!” Dia (Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)  berkata, “Maka, beliau pun ikut turun ke dalam kuburnya.” (HR. Bukhari no. 1285)

Terdapat beberapa faedah yang dapat diambil dari hadis di atas sebagaimana penjelasan berikut ini.

Faedah pertama:  Hadis di atas menunjukkan bolehnya menangis ketika ada saudara atau kerabat atau sahabat yang meninggal dunia dengan syarat tangisan tersebut tidak diiringi dengan meninggikan suara, merobek-robek kerah baju, atau menampar-nampar pipi, dan sejenisnya. Karena perbuatan tersebut menunjukkan keluh kesah, rasa marah, jengkel, dan tidak rida dengan takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan dan juga merupakan perbuatan (ciri khas) orang-orang jahiliah terdahulu.

Diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ، أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukan dari golongan kami siapa yang menampar-nampar pipi, merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan jahiliah (meratap).” (HR. Bukhari no. 1294 dan Muslim no. 103)

Faedah kedua: Kandungan hadis di atas menunjukkan bahwa yang sesuai dengan sunah adalah orang yang menurunkan jenazah perempuan ke liang lahat adalah laki-laki yang pada malam harinya tidak berhubungan badan dengan istrinya, meskipun laki-laki tersebut adalah laki-laki ajnabi (laki-laki yang bukan mahram). Karena dalam hadis di atas, Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang menurunkan jenazah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke dalam lahat, padahal beliau bukan mahram bagi putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadis tersebut menunjukkan bolehnya bagi laki-laki untuk memasukkan jenazah perempuan ke dalam kuburnya, karena laki-laki lebih kuat untuk mengerjakan hal itu dibandingkan perempuan.“ (Fathul Baari, 3: 159)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafkhim dan tarqiq (huruf isti'la) || bag.1

Mad thobi'i dan mad badal

Mad shilah qosiroh dan mubaalaghoh