Kitab al adabul mufrad haadits ke 124-130 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah

Kitab Adabul mufrad

Karya Muhammad bin Isma'il al bukhari(Imam Bukhari) 


  • Silahkan Download kajiannya ( DISINI ) 

(73) Bab keutamaan orang yang memelihara anak yatim

 ( بَابُ فَضْلِ مَنْ يَعُولُ يَتِيمًا )


Hadits ke 131

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَبِي الْغَيْثِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمَسَاكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، وَكَالَّذِي يَصُومُ النَّهَارَ وَيَقُومُ اللَّيْلَ

[قال الشيخ الألباني] :

صحيح

133. "Telah mengajarkan pada kami ‘Ismail , Telah mengajarkan pada ku Malik bin anas, dari Abu Huroiroh, dari tsaur bin zaid, dari Bul ghoits, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ” bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang berusaha membiayai / menanggung kehidupan orang yang tidak memiliki suami (baik suaminya meninggal dunia, diceraikan, atau belum menikah) dan orang miskin, dia bagaikan mujahid fisabilillah, dia seperti orang yang puasa di siang hari dan shalat di malam hari (qiyamul lail).”

[Berkata syaikh al bani : shohih]

Faidah hadits:

  • Orang yang hartanya di pergunakan untuk membiayai,menanggung perempuan yang tidak mempunyai suami apalagi saudara kita dan menanggung anak yatim maka niscaya hartanya tidak akan pernah berkurang.        Dari Abu Hurairah,Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ       “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”[HR. Muslim no. 2558]                                                  Dan Alloh subhaanaahu wata’aala berfrman :يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ  “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)
  • Para ‘Ulama menjelaskan bahwa harta itu adalah teman nyawa kita, sebagaiman orang yang berjihad di jalan Alloh mereka mengorbankan harta dan nyawa nya, begitu juga orang dengan hartanya dia mencukupi, menanggung anak yatim, fakir miskin dan para wanita yang tidak ada suaminya maka pahalanya sama seperti orang yang sedang berjihad di jalan Alloh.
  • Nabi umpakan dia seperti mujahid fii sabilillah,yaitu orang yang berusaha untuk menanggung wanita yang tidak mempunyai suami dan orang miskin. Sedangkan betapa agung nya amalan berjihad ini dan tidak ada amalan yang dapat menandinginya.               Dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata,                                                     قِيْلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟ قَالَ : « لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ ». قَالَ : فَأَعَادُوْا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا . كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ : « لَا تَسْتَطِيْعُوْنَهُ ». وَقَالَ فِيْ الثَّالِثَةِ : « مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللهِ . لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ تَعَالَى » .                                                          "Dikatakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: Amalan apa yang setara dengan jihad fii sabiilillah? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Kalian tidak bisa (mengerjakan amalan yang setara dengan jihad).” Para shahabat mengulangi pertanyaan tersebut dua kali atau tiga kali, dan Nabi tetap menjawab: “Kalian tidak bisa (mengerjakan amalan yang setara dengan jihad).” Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada kali yang ketiga: “Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah itu seperti orang yang berpuasa, shalat, dan khusyu’ dengan (membaca) ayat-ayat Allah. Dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya sampai orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala itu kembali.” Hr.Muslim dalam Shahiih-nya (no. 1878), Ibnu Abi Syaibah (no. 19542), Ibnu Hibban (no. 4608-at-Ta’liiqaatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban), At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 1619), Ahmad dalam Musnad-nya (II/424), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 2612). Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits as-Shahiihah (no. 2896).

(74) Bab keutamaan orang yang memelihara anak yatim miliknya

 ( بَابُ فَضْلِ مَنْ يَعُولُ يَتِيمًا لَهُ )


Hadits ke 132

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ أَخْبَرَهُ، أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ:

جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا ، فَسَأَلَتْنِي فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي إِلا تَمْرَةً وَاحِدَةً ، فَأَعْطَيْتُهَا ، فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا ، ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ ، فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَدَّثْتُهُ ، فَقَالَ : مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ شَيْئًا ، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

[قال الشيخ الألباني] :

صحيح

132. "Telah mengajarkan pada kami Abul yaman,dia berkata; Syu’aib mengabarkan pada kami dari Zuhri dia betkata; telah mengajarkan padaku ‘Abdulloh bin abi bakr, bahwa ‘Urwah bin zubair mengabarkan pada nya ; “Bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata:     “Telah datang kepadaku seorang wanita, yang wanita itu membawa dua putrinya. Dia meminta kepadaku ketika aku tidak mendapati di sisiku kecuali 1 buah kurma, maka aku berikan kurma itu kepada wanita tersebut. Kemudian kurma tersebut dibagi dua diberikan kepada kedua putrinya (sedangkan dia tidak memperoleh apa-apa), lalu dia berdiri dan pergi. Kemudian Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam datang, maka aku bercerita kepada beliau, maka Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuan ini, lalu dia berbuat baik kepadanya, maka mereka akan menjadi tabir dari api neraka.””[syaikh Al bani berkata: shohih]

Faidah hadits ini:

  • Hadits ini menunjukan keutamaan ‘Aaisyah rodhiyalloohu ‘anha, dimana beliau sangat dermawan, walaupun dirumahnya hanya ada sebiji kurma tapi beliau lebih mendahulukan orang yang membutuhkannya.
  • Hendaklah kita harus berusaha mencontoh kedermawanan ibunda kaum mu’minin ‘Aaisyah rodhiyalloohu ‘anhu.
  •  Ketika tatkala istri mengajak ngobrol atau menceritakan sesuatu apa yang di alaminya dirumah,maka hendaklah suami berusaha mendengarkan dengan bijak,walaupun suami juga sedang capek setelah bekerja. Sebagaimana di hadits ini Rosulululloh mendengarkan cerita ‘Aaisyah tentang seorang wanita meminta-minta kerumahnya sambil membawa kedua putrinya.
  • Dengan memelihara atau menanggung kebutuhan anak yatim,maka kelak dia akan menjadi tabir bagi kita dari api neraka.

(75) Bab keutamaan orang yang merawat anak yatim-piatu

 ( بَابُ فَضْلِ مَنْ يَعُولُ يَتِيمًا مِنْ أَبَوَيْهِ )

Hadits ke 133

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ صَفْوَانَ قَالَ: حَدَّثَتْنِي أُنَيْسَةُ، عَنْ أُمِّ سَعِيدٍ بِنْتِ مُرَّةَ الْفِهْرِيِّ، عَنْ أَبِيهَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

” أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ ، أَوْ كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ ” . شَكَّ سُفْيَانُ فِي الْوُسْطَى وَالَّتِي تَلِي الإِبْهَامَ .

133. "Telah mengajarkan pada kami ‘Abdulloh bin Muhammad dia berkata; telah mengajarkan pada kami Sufyan bin ‘uyainah; dari Shofwan dia berkata; telah mengajarkan padaku u aisah; dari ummu sa’id Murrah Al-Fihri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Aku bersama orang yang menanggung / memelihara anak yatim di surga seperti dua jari ini atau seperti ini dari jari-jari ini.” Sufyan bimbang mengenai jari tengah dan jari telunjuk.”                                    [Berkata syaikh Al bani: shohih]

Hadits ke 134:(hadits dhoif)

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا مَنْصُورٌ، عَنِ الْحَسَنِ، أَنَّ يَتِيمًا كَانَ يَحْضُرُ طَعَامَ ابْنِ عُمَرَ، فَدَعَا بِطَعَامٍ ذَاتَ يَوْمٍ، فَطَلَبَ يَتِيمَهُ فَلَمْ يَجِدْهُ، فَجَاءَ بَعْدَمَا فَرَغَ ابْنُ عُمَرَ، فَدَعَا لَهُ ابْنُ عُمَرَ بِطَعَامٍ، لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ، فَجَاءَه بِسَوِيقٍ وَعَسَلٍ، فَقَالَ: دُونَكَ هَذَا، فَوَاللَّهِ مَا غُبِنْتَ يَقُولُ الْحَسَنُ: وَابْنُ عُمَرَ وَاللَّهِ مَا غُبِنَ.

[قال الشيخ الألباني] :

ضعيف

Hadits ke 135

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا» ، وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

[قال الشيخ الألباني] :   صحيح

135. "Telah mengajarkan pada kami ‘Abdullah bin ‘Abdil Wahab,dia berkata; telah mengajarkan padaku ‘Abdul ‘Aziz bin abi Hazim, dia berkata; telah mengajarkan padaku ayahku;

“Aku mendengar sahl bin sa’ad, dari Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda: ” Aku bersama orang yang mencukupi/memelihara anak yatim di surha seperti ini” berkata sa’ad; beliau berisyarat dengan tangannya;seperti jari telunjuk dan tengah.”                                                            [Berkata syaikh Al bani: shohih]

Hadits ke 136

حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ خَالِدِ بْنِ وَرْدَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ حَفْصٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ كَانَ لَا يَأْكُلُ طَعَامًا إِلَّا وَعَلَى خِوَانِهِ يَتِيمٌ

[قال الشيخ الألباني] :   صحيح

136. "Bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Umar tidaklah makan kecuali di atas mejanya ada anak yatim”  [Berkata syaikh Al bani: shohih]

Faidah hadits 133,135 dan 136:

  • Keutamaan perawi Shofwan bin sulaim, imam Ahmad berkata : shofwan bin sulaim adalah orang yang terpercaya, dan dia termasuk dari hamba-hamba Alloh yang sholeh. Bahkan karena kesholehannya doa shofwan bin sulaim di ijabah,tatkala berdoa meminta hujan di kabulkan oleh Alloh. Dan kita di perbolehkan bertawasul dengan orang sholeh yang masih hidup sebagaimana para sahabat bertawasul kepada Nabi ketika masih hidup, ‘Umar bertawasul kepada ‘Abbas tatkala masih hidup.   Dan bertawasul yang dilarang ialah bertawasul dengan orang sholeh yang sudah meninggal.
  • Orang yang senantiasa menanggung anak yatim maka di surga kelak akan berdekatan dengan Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam.
  • Yang dimaksud anak yatim adalah anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya dan dia belum baligh dan belum bekerja.
  • Keutamaan para sahabat dimana mereka ketika mendengar hadits Nabi,mereka berlomba lomba untuk mengamalkannya,sebagaimana ‘abdullah bin ‘umar ini dia berusaha tidak makan kecuali bersama anak yatim.


(76) Bab sebaik-baik rumah adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang dirawat dengan baik

 ( بَابُ خَيْرُ بَيْتٍ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُحْسَنُ إِلَيْهِ )


Hadits ke 137: (HADITS DHA’IF)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنِ ابْنِ أَبِي عَتَّابٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

خَيْرُ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُحْسَنُ إِلَيْهِ ، وَشَرُّ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُسَاءُ إِلَيْهِ ، أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ ، يُشِيرُ بِإِصْبَعَيْهِ

[قال الشيخ الألباني] :

ضعيف إلا جملة كافل التيم فهي صحيحة

137. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sebaik-baik rumah di kalangan kaum Muslimin adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang dirawat dengan baik. Dan seburuk-buruk rumah di kalangan kaum Muslimin adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang didzalimi.””

[Berkata syaikh Al bani: dhoif] kecuali kata orang yang mencukupi anak yatim( كافل التيم ) ini shohih.

(77) Bab jadilah untuk anak yatim seperti seorang bapak yang penyayang

 ( بَابُ كُنَّ لِلْيَتِيمِ كَالْأَبِ الرَّحِيمِ )

Hadits ke 138

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَبَّاسٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبْزَى قَالَ:

قَالَ دَاوُدُ : كُنَّ لِلْيَتِيمِ كَالأَبِ الرَّحِيمِ ، وَاعْلَمْ أَنَّكَ كَمَا تَزْرَعُ كَذَلِكَ تَحْصُدُ ، مَا أَقْبَحَ الْفَقْرَ بَعْدَ الْغِنَى ، وَأَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ ، أَوْ أَقْبَحُ مِنْ ذَلِكَ ، الضَّلالَةُ بَعْدَ الْهُدَى ، وَإِذَا وَعَدْتَ صَاحِبَكَ فَأَنْجِزْ لَهُ مَا وَعَدْتَهُ ، فَإِنْ لا تَفْعَلْ يُورِثُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ ، وَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ صَاحِبٍ إِنْ ذَكَرْتَ لَمْ يُعِنْكَ ، وَإِنْ نَسِيتَ لَمْ يُذَكِّرْكَ .

[قال الشيخ الألباني] :  صحيح

138. "Telah mengajarkan pada kami ‘Amr bin ‘Abbas, dia berkata; telah mengajarkan pada kami ‘Abdurrohman; telah mengajrkan pada kami Sufyan dari Abu Ishak, dia berkata;

“Aku mendengar ‘Abdurrahman bin Abzaradhiyallahu ‘anhu:   “Telah berkata Nabi Dawud ‘alaihis salam, “Jadilah engkau untuk anak yatim seperti bapak yang pengasih.Ketahuilah apa yang kau tanam itu yang kau tuai (panen). Betapa buruknya kemiskinan setelah kaya. Yang lebih buruk dari itu adalah kesesatan setelah mendapat hidayah. Kalau engkau berjanji dengan sahabatmu, maka tepati janjimu, kalau engkau tidak menepati janjimu maka perlakuanmu itu akan menumbuhkan permusuhan antara engkau dengannya. Dan kau berlindunglah dari teman, di mana kalau engkau sebutkan kebutuhanmu, dia tidak membantumu dan kalau engkau lupa, dia tidak mengingatkanmu.””

[Berkata syaikh Al bani: shohih]

Faidah hadits ini:

  • Hadits ini menunjukan bahwa seseorang akan mendapatkan balasan sesuai apa yang di kerjakan, bila seseorang menanam atau melakukan kebaikan maka dia akan memperoleh kebaikan pula, begitu juga dengan orang yang melakukan keburukan maka dia akan memperoleh keburukan.
  •  Orang kaya yang jatuh miskin mereka perlu dikasihani,diperhatiakan karena bagi mereka sudah terbiasa hidup dengan kenikmatan dan tatkala mereka jatuh miskin maka hal tersebut sangat berat sekali mereka terima, oleh karenanya mereka itu harus kita perhatikan dan kasihani.
  •  Betapa buruknya bahkan lebih buruk dari orang kaya lalu mereka jatuh miskin yaitu orang sudah mendapatkan hidayah lalu dia terjatuh kepada kesesatan. Oleh karena itu kita harus sering-sering berdoa dengan doa            رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ                                                                         “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali-‘Imran : 8)
  • Hendaklah ketika berjanji harus kita tepati,karena jika ingkar janji maka ini salah satu sifat munafik.   Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,                                                                   مِنْ عَلاَمَاتِ الْمُنَافِقِ ثَلاَثَةٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ                                                                       "Di antara tanda munafik ada tiga: jika berbicara, dusta; jika berjanji, tidak menepati; jika diberi amanat, ia khianat.” (HR. Muslim no. 59)
  •  Hendaklah kita selalu berlindung kepada Alloh dari teman yang buruk yaitu diantaranya bila kita membutuhkan sesuatu tapi dia membantu dan kalau kita lupa atau berada di kesalahan tapi dia tidak mengingatkan kita.

Hadits ke 139:(hadits dhoif)

حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا حَمْزَةُ بْنُ نَجِيحٍ أَبُو عُمَارَةَ قَالَ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ: لَقَدْ عَهِدْتُ الْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْهُمْ لَيُصْبِحُ فَيَقُولُ: يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَتِيمَكُمْ يَتِيمَكُمْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، مِسْكِينَكُمْ مِسْكِينَكُمْ، يَا أَهْلِيَهْ، يَا أَهْلِيَهْ، جَارَكُمْ جَارَكُمْ، وَأُسْرِعَ بِخِيَارِكُمْ وَأَنْتُمْ كُلَّ يَوْمٍ تَرْذُلُونَ “. وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: وَإِذَا شِئْتَ رَأَيْتَهُ فَاسِقًا يَتَعَمَّقُ بِثَلَاثِينَ أَلْفًا إِلَى النَّارِ مَا لَهُ قَاتَلَهُ اللَّهُ؟ بَاعَ خَلَاقَهُ مِنَ اللَّهِ بِثَمَنِ عَنْزٍ، وَإِنْ شِئْتَ رَأَيْتَهُ مُضَيِّعًا مُرْبَدًّا فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ، لَا وَاعِظَ لَهُ مِنْ نَفْسِهِ وَلَا مِنَ النَّاسِ

[قال الشيخ الألباني] :

ضعيف

139. ” Aku dulu pernah melihat orang muslim, lalu ada laki-laki yang menyeru berkata; wahai para keluarga hati-hati dan periharalah anak-anak yatim kalian dan perhatikanlah orang-orang miskin, tetangga kalian(berikan hak-hak nya),dan tatkala orang-orang baik diantara kalian meninggal, dan dengan meninggalnya mereka kalian akan semakin rendah/hina. Dan aku mendengar pula dia berkata :” dan bila kamu ingin melihat ada orang-orang fasik yang dengan uangnya 30 ribu dinar dia masuk neraka,dia menjual bagiannya disurga Alloh dengan seharga kambing dan kalau kau ingin melihat dia yang menghilangkan hak-hak Alloh dan dia berusaha masuk kepada jalan syetan lalu tidak ada yang memberi nasihat padanya baik dari dirinya ataupun orang-orang.”

[Berkata syaikh Al bani : dhoif]

  • Atsar ini secara sanad dhoif namun secara makna atsar ini shohih,dimana kita di perintahkan untuk memperhatikan orang miskin,tetangga dan anak yatim.


Hadits ke 140 (atsar dari Ibnu Sirin) 

حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ أَبِي مُطِيعٍ، عَنْ أَسْمَاءَ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ: قُلْتُ لِابْنِ سِيرِينَ: عِنْدِي يَتِيمٌ، قَالَ: اصْنَعْ بِهِ مَا تَصْنَعُ بِوَلَدِكَ، اضْرِبْهُ مَا تَضْرِبُ وَلَدَكَ

[قال الشيخ الألباني] :  صحيح

140. "Telah mengajarkan pada kami musa,Telah mengajarkan pada kami Salam bin abi Muthi’,

“Dari Asma’ bin ‘Ubaid berkata pada ibnu sirin;aku punya anak yatim,berkata ibnu sirin: rawatlah dia sebagaimana kau merawat anak mu, dan pukulah dia sebagaimana kau memukul anak mu.”

[Berkata syaikh Al bani : shohih]

Keterangan atsar ini:

  • Ketika kita mendidik anak yatim dan qodarulloh dia melakukan kesalahan yang memang harus di pukul maka pukulah sebagimana memukul anak sendiri tidak membedakannya. Dan tentunya pukulan yang tidak membuatnya cedera atau memar dan sebagainya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafkhim dan tarqiq (huruf isti'la) || bag.1

Mad thobi'i dan mad badal

Mad shilah qosiroh dan mubaalaghoh