Kitab al adabul mufrad hadits ke 94-106 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah
Kitab Adabul mufrad
- Download kajiannya [ DISINI ]
(52) Bab kebaktian orang tua kepada anaknya
( بَابُ بِرِّ الْأَبِ لِوَلَدِهِ )
Pada bab ini tidak hanya anak yang di tuntut untuk berbakti kepada orangtua namun orang tua juga di tuntut untuk mendidik,memperhatikan,berbuat baik kepada anaknya. Jika ada sebagian anak yang tidak berbakti kepada orang tua maka kita sebagai orang tua hendaklah berintrofeksi diri,mungkin kita kurang memperhatikan,mendidik denagan baik kepada anak kita sehingga anak pun tidak berbakti kita.
Hadits ke 94
حَدَّثَنَا ابْنُ مَخْلَدٍ، عَنْ عِيسَى بْنِ يُونُسَ، عَنِ الْوَصَّافِيِّ، عَنْ مُحَارِبِ بْنِ دِثَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : إِنَّمَا سَمَّاهُمُ اللَّهُ أَبْرَارًا ، لِأَنَّهُمْ بَرُّوا الآبَاءَ وَالأَبْنَاءَ ، كَمَا أَنَّ لِوَالِدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، كَذَلِكَ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ
94.“Dari ibnu ‘Umar berkata : Sesungguhnya Allah menjadikan mereka Abraar–orang-orang yang baik / berbakti (firman Allah Ta’ala: إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ [QS Al-Muthaffifin <83>: 22]), karena mereka berbakti kepada orang tuanya dan kepada anaknya, sebagaimana orang tuamu punya hak atasmu, ketahuilah bahwa anakmu juga punya hak atasmu.” [dhoif]
Keterangan hadits:
- Atsar ini secara sanad dhoif namun maknanya shahih
(53) Bab Barangsiapa yang tidak mengasihi maka dia tidak di kasihi
( بَابُ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ )
Hadits ke 95
دَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ، عَنْ شَيْبَانَ، عَنْ فِرَاسٍ، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ
95.“Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang tidak mengasihi, maka dia tidak akan dikasihi.” [shahih]
Faidah hadits ini:
- Hadits ini bersifat umum yakni islam mengajarkan kita untuk berbuat baik atau mengasihi sesama manusia dan kepada binatang. Oleh karena itu islam adalah agama yang mengajarkan ummat nya tentang kasih sayang baik kepada sesama ataupun kepada hewan. Kalau hari ini di negara non muslim ada hukuman bagi siapa saja yang memperlakukan hewan dengan tidak baik maka akan di penjara atau di denda, maka ketahuilah islam sudah sejak dulu mengajarkan berbuat baik kepada binatang. Bahkan bukan hanya sekedar penjara tapi hukumanya surga atau neraka bagi manusia yang menyikasa atau memperlakukan binatang dengan tidak baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ هِيَ أَرْسَلَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ اْلأَرْضِ حَتَّى مَاتَتْ هَزْلاً “ Seorang wanita masuk Neraka karena seekor kucing yang diikatnya. Dia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya makan serangga bumi, sehingga mati kelaparan.” (Muttafaq ‘Alaih)
Hadits ke 96
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، وَأَبِي ظَبْيَانَ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ» صحيح
96.“Dari Jarir bin ‘Abdillah berkata: bersabda Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wasallam : Tidak di kasihi Oleh Allah barang siapa yang tidak mengasihi manusia” [shahih]
Hadits ke 97
وَعَنْ عَبْدَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسٍ، عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ لَا يَرْحَمُهُ اللَّهُ» صحيح
97.“Dari jarir bin ‘Abdillah berkata: Bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam : barang siapa yang tidak mengasihi manusia tidak di kasihi oleh Allah.” [shahih]
Hadits ke 98
وَعَنْ عَبْدَةَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسٌ مِنَ الْأَعْرَابِ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنْهُمْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ، فَوَاللَّهِ مَا نُقَبِّلُهُمْ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَوَ أَمْلِكُ إِنْ كَانَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ نَزَعَ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ؟» صحيح
98.“Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha berkata: suatu hari datang kepada Nabi Shallallaahu alaihi wasallam sekelempok manusia dari kalangan arab baduy, seseorang diantara mereka berkata : Ya Rasulullah ! Apakah diantara kalian mencium anak-anak kecil ? Sungguh kami(arab baduy) tidak mencium anak-anak kecil. Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam bersabda : apa yang bisa aku perbuat apabila Allah ‘azza wajalla telah mencabut rahmat dari hatimu.” [shahih]
Faidah hadits ini:
- Hadits ini terdapat pelajaran bagi bapa-bapa agar kita jangan sungkan atau malu untuk mencium anak-anak kecil nya atau anak kecil saudara nya. Kalau seoarang ayah yang tidak mau mencium anak kecil bisa jadi Allah telah mencabut rahmat dari hati kita.
Hadits ke 99
حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ قَالَ: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اسْتَعْمَلَ رَجُلًا، فَقَالَ الْعَامِلُ: إِنَّ لِي كَذَا وَكَذَا مِنَ الْوَلَدِ، مَا قَبَّلْتُ وَاحِدًا مِنْهُمْ، فَزَعَمَ عُمَرُ، أَوْ قَالَ عُمَرُ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَرْحَمُ مِنْ عِبَادِهِ إِلَّا أَبَرَّهُمْ حسن
99.“Dari abi Utsman bahwasannya ‘Umar pernah menugaska seseorang untuk jadi pegawainya. Pekerja itu berkata: Aku memiliki beberapa anak (dia sebutkan anak-anaknya) tidak pernah aku mencium satu saja di antara mereka, ‘Umar berkata : Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla tidak mengasihi dari hamba-hambanya kecuali bagi mereka yang berbuat baik kepada sesamanya. “ [hasan]
Ibnu Batthol rahimahullah berkata, “Dan mengasihi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya merupakan amalan yang diridoi oleh Allah, dan diberi ganjaran oleh Allah. Mencium anak kecil dan menggendongnya dan memperhatikannya termasuk sebab yang berhak untuk mendatangkan rahmat Allah”. [ Ustadz firanda andirja baca selengkapnya ]
(54) Bab Rahmat Alloh ada 100 bagian
( بَابُ الرَّحْمَةُ مِائَةُ جُزْءٍ )
Hadits ke 100
حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: جَعَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ ، وَأَنْزَلَ فِي الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا ، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ ، حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا ، خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ
100.“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah menjadikan rahmat itu 100 bagian, 99 rahmat Allah simpan di sisiNya, dan hanya 1 rahmat yang Allah turunkan ke bumi ini. Dari 1 bagian rahmat itu makhluk-makhluk Allah saling mengasihi, hingga kuda mengangkat kakinya dari anaknya karena khawatir akan menimpanya.” [shahih]
Faidah hadits ini:
Dengan satu rahmat itu seorang suami mengasihi istrinya, dengan satu rahmat itu seorang ayah mengasihi putra dan putri nya. Dan hendaklah kita berusaha untuk bisa mendapatkan 99 rahmat Allah yang lainnya yang akan di berikan di surganya.
(55)Bab Wasiat berbuat baik pada tetangga
( بَابُ الْوَصَاةِ بِالْجَارِ )
Hadits ke 101
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَمْرَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا زَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوصِينِي بِالْجَارِ ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ – صحيح
101.“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Jibril itu tidak henti-hentinya berwasiat kepadaku, agar aku berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira tetangga itu mendapat warisan.” [shahihi]
Hadits ke 102
حَدَّثَنَا صَدَقَةُ قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ نَافِعِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْخُزَاعِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ» صحيح
102.“Dari Abi Syuraij dari Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka dia berbuat baik kepada tetangganya, dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia memuliakan tamu nya, dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik kalau tidak bisa diam.” [shahihi]
Faidah hadits:
Kedua Hadits diatas menunjukan bahwa ummat islam diperintahkan untuk menjaga tetangganya dari semua keburukan yang berasal dari keluarga dan diri kita. Dan dalam hadits di atas juga ummat islam diperintah kan untuk berbuat baik kepada tetangga baik muslim atau kafir dan ummat islam diperintakan berbuat baik kepada tetangga bukan hanya sekedar adat istiadat atau karena ketidak sungkanan atau karena merasa tidak enak saja, tapi ummat islam berbuat baik kepada tetangga di dasari atas iman kepada Allah dan hari akhir. Dan tidak sepatutnya apabila di zaman ini ada seseorang atau sekelompok orang atau orang kafir yang memerintahkan kepada ummat islam untuk bertoleransi, karena ummat islam sudah diajarkan bagaimana toleransi terhadap sesama dari dulu dari zaman Nabi Shallallaahu alaihi wasallam.
(56) Bab Hak tetangga
( بَابُ حَقِّ الْجَارِ )
Hadits ke 103
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا ظَبْيَةَ الْكَلَاعِيَّ قَالَ: سَمِعْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الْأَسْوَدِ يَقُولُ: سَأَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْحَابَهُ عَنِ الزِّنَا ؟ ، قَالُوا : حَرَامٌ ، حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ، فَقَالَ : لأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرِ نِسْوَةٍ ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ ، وَسَأَلَهُمْ عَنِ السَّرِقَةِ ؟ قَالُوا : حَرَامٌ ، حَرَّمَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولُهُ ، فَقَالَ : لأَنْ يَسْرِقَ مِنْ عَشَرَةِ أَهْلِ أَبْيَاتٍ ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ بَيْتِ جَارِهِ
103.“Dari Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu berkata:“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya tentang zina. Mereka (para sahabat) mengatakan, “Zina itu haram. Diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seseorang lelaki berzina dengan 10 wanita itu lebih ringan dosanya daripada ia berzina dengan istri tetangganya.” Rasul bertanya kepada mereka tentang mencuri. Mereka mengatakan, “Mencuri itu haram. Diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya.” Rasul bersabda, “Dia mencuri dari 10 rumah orang itu lebih ringan daripada dia mencuri dari rumah tetangganya.” [shahih]
Kenapa dosa nya lebih besar karena menyalahi perintah Allah dan rasul nya,Allah memerintahkan agar berbuat baik,menjaga tetangga dari segala keburukan lalu kita malah berzina dengan istri tetangga, kemudian ketika tetangga bersafar dia berharap agar istrinya mendapat penjagaan dari tetangga tapi kita malah berzina dengan istri nya. Orang musyrik jahiliyah dulu ketika mereka melihat kerudung wanita jatuh atau terbuka mereka langsung menundukan pandangan,karena mereka sangat menghormati nya. Apalagi bagi seorang muslim memang sudah menjadi kewajiban untuk menghormati,menjaga tetangga nya. Hadits Ini menunjukan betapa besarnya besarnya hak tetangga kita.
(57) Bab Memulai dengan tetangga ketika memberi sesuatu
( بَابُ يَبْدَأُ بِالْجَارِ )
Hadits ke 104
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِنْهَالٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ» صحيح
104.“Dari ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu berkata,bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam : Jibril senantiasa memberi wasiat kepadaku agar aku berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira dia akan mendapatkan warisan.” [shahih]
Hadits ke 105
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ شَابُورَ، وَأَبِي إِسْمَاعِيلَ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّهُ ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ ، فَجَعَلَ يَقُولُ لِغُلامِهِ : أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ ؟ أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ – صحيح
105.“Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma: “‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash pernah disembelihkan seekor kambing untuknya, maka dia berkata kepada budaknya, “Kau sudah hadiahkan buat tetangga kita yang Yahudi? Kau sudah berikan untuk tetangga kita yang Yahudi?” Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jibril senantiasa memberi wasiat kepadaku agar aku berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku mengira dia akan mendapatkan warisan.” [shahihi]
Faidah hadits:
- ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash memahami hadits diatas secara umum yaitu berbuat baik kepada tetangga baik muslim atau kafir.
- Tentunya ummat islam di perintahkan untuk berbuat baik atau toleransi kepada tetangganya bukan dalam masalah agama, seperti mengucapkan selamat natal atau merayakan hari-hari yang mereka rayakan. Karena kalau masalah agama di larang bertoleransi oleh Allah, Allah berfirman : لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْن “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” qs. Al-kaafiruun : 6
Hadits ke 106
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ: حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرٍ، أَنَّ عَمْرَةَ حَدَّثَتْهُ، أَنَّهَا سَمِعَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ لَيُوَرِّثُهُ» صحيح
106."Dari ‘Aisyah radhiyalloohu ‘anha berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. ‘Jibril tidak henti-hentinya berwasiat kepadaku (agar berbuat baik) dengan tetangga, sehingga aku mengira bahwasanya dia mewariskannya’. [Shohih]
Faidah hadits:
- Ketiga hadits di atasa yakni 104,105 dan 106 ini redaksinya sama dan ketiga hadits di atas diriwayatkan oleh tiga sahabat yang berbeda yang pertama dari Ibnu Umar, 'Abdullah bin amt dan Ummul mukminin 'Aisyah radhiyallahu Anha. Artinya ketiga hadits diatas adalah hadits yang populer di kalangan para sahabat yakni hampir semua sahabat mengetahui nyanya dan mereka pun mempraktekannya dalam keseharian.
Ini wajib kita contoh jadi anak-anak kita dari kecil sudah di biasakan untuk berbuat baik pada tetangga contoh yang sangat mudah ketika mempunyai makanan maka suruh anak kita untuk berbagi memberikannya pada tetangga. Kebiasaan yang baik ini ketika di tanamkan dari usia dini maka akan terbawa ketika usia anak kita dewasa.
Simak juga kajian nya bersama ustadz 'Abdullah Zain di Yufid tv
-Wallahu a'lam-

Komentar