Kitab al adabul mufrad haadits ke 88-93 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah

Kitab Adabul mufrad

Karya Muhammad bin Isma'al al bukhari(Imam Bukhari) 

  • Silahkan download kajiannya [ DISINI ]

 (48) Bab tentang siapa yang mendo’akan temannya agar di perbanyak harta dan anaknya

 (بَابُ مَنْ دَعَا لِصَاحِبِهِ أَنْ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ) 

Hadits no 88

 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا، وَمَا هُوَ إِلَّا أَنَا وَأُمِّي وَأُمُّ حَرَامٍ خَالَتِي، إِذْ دَخَلَ عَلَيْنَا فَقَالَ لَنَا: «أَلَا أُصَلِّي بِكُمْ؟» وَذَاكَ فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلَاةٍ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: فَأَيْنَ جَعَلَ أَنَسًا مِنْهُ؟ فَقَالَ: جَعَلَهُ عَنْ يَمِينِهِ؟ ثُمَّ صَلَّى بِنَا، ثُمَّ دَعَا لَنَا – أَهْلَ الْبَيْتِ – بِكُلِّ خَيْرٍ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، فَقَالَتْ أُمِّي: يَا رَسُولَ اللَّهِ، خُوَيْدِمُكَ، ادْعُ اللَّهَ لَهُ، فَدَعَا لِي بِكُلِّ خَيْرٍ، كَانَ فِي آخِرِ دُعَائِهِ أَنْ قَالَ: «اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ» صحيح

88.“Aku pernah masuk menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari. Ketika itu di rumah, tidak ada orang kecuali aku, ibuku, dan Ummu Haram, yaitu bibiku. Ketika Rasulullah masuk menemui kami, beliau berkata, “Maukah kalian aku mendirikan shalat bersama kalian?” Ketika itu bukan masuk waktu shalat. (Jadi, shalat yang ditawarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallamadalah shalat sunnah.) Ada yang bertanya, “Di mana Anas radhiyallahu ‘anhu diletakkan oleh Rasulullah?” Lalu dijawab, “Anas ketika itu diletakkan di sebelah kanannya.” (Adapun Ummu Sulaim dan Ummu Haram di belakang.) Kemudian Rasulullah shalat dengan kami, lalu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallamberdoa buat kami, seisi rumah, dengan semua kebaikan, baik kebaikan dunia ataupun akhirat. Ibuku (Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha) berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, pembantu kecilmu (Anas), dosuqkepada Allah untuk dia.” Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallammemintakan untukku dengan segala kebaikan. Di penghujung doanya, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallamberkata, “Ya Allah, banyakkan hartanya dan anaknya serta berkahi dia.” [shohih]

Perawi: -Tsabit dia adalah seorang tabi’un dan murid anas bin malik yang telah menemani anas kurang lebih 40th, dikatakan bahwa tsabit ini selalu membaca al-quran dalam sehari dan semalam,puasa sunnah nya hampir tidak pernah putus,tsabit adalah sosok seorang tabi’in yang patut di contoh dalam ibadah dan ilmu nya dan dalam amalan nya.

Faidah hadits :

• Hadits ini menunjukan bolehnya shalat Sunnah berjamaah, dengan catatan jangan di jadikan suatu rutinitas yang seakan-akan tidak boleh di tinggalkan. Seperti shalat tarawih maka boleh kita berjamaah, shalat tahajud sesekali boleh berjamaah bersama istri.

• Ummu sulaim minta anas di doakan oleh nabi.ini menunjukan bolehnya bertawasul atau meminta untuk di doakan kepada orang shalih dengan syarat orang shalih itu masih hidup dan dia ada, atau dia masih hidup dan bisa berkomunikasi baik secara langsung atau via telpon. Adapun orang shalih itu sudah meninggal maka kita dilarang untuk bertawasul kepadanya bahkan sebaliknya orang yang meninggal itu yang butuh di doakan oleh kita yang masih hidup.

• Allah mengabulkan doanya Rasulullah, dan di katakan bahwa anas itu memiliki anak yang banyak dan ketika anas di irak kebunya itu bisa berbuah lebih banyak dari orang lain.

• Dianjurkan ketika kita mendoakan orang lain dengan doa supaya di beri rizki yang banyak serta anak maka jangan lupa untuk mendoakan agar di berkahi, karena percuma harta banyak tapi tidak berkah. Berkah itu banyak kebaikannya serta tumbuh dan berkembang.

(49) Bab para ibu yang penyayang

( بَابُ الْوَالِدَاتُ رَحِيمَاتٌ) 

Hadits no. 89

 حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ فَضَالَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَأَعْطَتْهَا عَائِشَةُ ثَلَاثَ تَمَرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ صَبِيٍّ لَهَا تَمْرَةً، وَأَمْسَكَتْ لِنَفْسِهَا تَمْرَةً، فَأَكَلَ الصِّبْيَانِ التَّمْرَتَيْنِ وَنَظَرَا إِلَى أُمِّهِمَا، فَعَمَدَتْ إِلَى التَّمْرَةِ فَشَقَّتْهَا، فَأَعْطَتْ كُلَّ صَبِيٍّ نِصْفَ تَمْرَةٍ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ فَقَالَ: «وَمَا يُعْجِبُكَ مِنْ ذَلِكَ؟ لَقَدْ رَحِمَهَا اللَّهُ بِرَحْمَتِهَا صَبِيَّيْهَا» صحيح

89."Dari anas bin malik; Seorang perempuan datang kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha(sambil membawa dua anaknya dan meminta-minta) lalu Aisyah memberikan tiga buah kurma kepadanya dan perempuan itu memberikan kepada masing-masing anaknya satu buah kurma, dan menyisakan satu kurma untuk dirinya. Lalu kedua anak itu makan kurma tersebut dengan lahapnya (setelah memakan kurma) ia melihat kepada ibunya, kemudian perempuan tersebut melihat satu buah kurma (yang tersisa untuknya), maka dibelahnya menjadi dua dan diberikan kepada masing-masing anaknya. Setelah itu Nabisallallahu alaihi wasallam datang, maka Aisyah radiallahu anhamenceritakannya. Kemudian Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Apa yang membuatmu heran dengan kejadian tersebut?Sungguh Allah telah menyayanginya karena dia telah menyayangi anaknya.” [shohih]

Perawi: – Bakar bin abdillah al-muzani adalah seorang tabiin yang kaya raya dan kekayaannya itu menjadikan dia sangat dermawan. Dan disebutkan bahwa dia seorang tabi’in yang mustazab doa nya,dan diantara petuah beliau yaitu pernah berkata “hindarilah perkataan yang kalau kau benar dalam ucapan mu itu engkau tidak dapat pahala dan jika perkataan mu tidak benar maka engkau mendapatkan dosa yaitu suuzhan(berburuk sangka) terhadap saudaramu.

Faidah hadits:

• ‘Aisyah menceritakan kejadian itu kepada Rasulullah dan Rasulullah pun mendengarkannya dengan baik, inilah adab bagi pasangan suami istri tatkala istri ingin bercerita tentang suatu masalah apapun hendaklah suami menjadi pendengar yang baik,disimak baik-baik walaupun ceritaan istri sudah di ketahui atau pernah mendengar sebelumnya.

• Seorang boleh meminta-minta dengan syarat ketika dia sangat membutuhkan dan dia sudah berusah tapi saat itu sudah tidak ada jalan lagi jalan untuk meraih rizki Allah.

• Terdapat pelajaran yang sangat berharga dari kedermawanan ‘aisyah dimana saat itu ‘aisyah dirumahnya hanya mempunyai tiga butir kurma dan tidak ada lagi amakanan yang lain selain itu,lalu ‘aisyah memberikan semuanya kepada seorang ibu yang minta-minta tersebut tanpa harus menyisakan untuk dirinya.

• Kemudian apabila kita ingin berbuat baik pada orang lain seperti shodaqoh dan yang lainnya tidak harus nunggu kaya,apa yang kita miliki maka shadqohkan lah.

• Dibolehkan menceritakan suatu amalan dengan syarat bukan untuk menyombongkan diri,mengingat-ngingat kebaikan,ingin di dengar orang lain. Seperti ingin bertanya kepada ahli ilmu apakah shodaqoh kita kepada seseorang atau ke tempat ini dan itu sudah tepat atau belum dan lain-lain seperti ini di bolehkan,atau menceritakan nikmat pemberian Allah sebagaiman firmana Allah: وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). Tapi dengan syarat tidak ada niat untuk membanggakan diri atau uzub dll.

(50) Bab tentang mencium anak-anak

( بَابُ قُبْلَةِ الصِّبْيَانِ) 

Hadits no. 90

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: أَتُقَبِّلُونَ صِبْيَانَكُمْ؟ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ؟» صحيح

90.“Pernah datang seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang Badui itu mengatakan, “Apakah kalian mencium anak-anak kecil kalian? Di masyarakat kita, tidak ada mencium anak-anak kecil.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apa yang bisa aku perbuat untukmu apabila Allah telah mencabut dari hatimu rahmat.” [shohih]

Faidah hadits :

• Seorang ayah yang tidak pernah mencium anak nya di khawatirkan Allah telah mencabut rahmat di hatinya. Apalagi segala urusan yang berhubungan dengan anak hanya dilakukan oleh istri, ayahnya tidak pernah mau tau tentang itu.

• Imam nawawi dengan hadits ini berpendapat bahwa mencium pipi anak atau bagian wajah yang lainnya dahi,mata dll hukumnya wajib. Karena hadits ini menunjukan orang yang tidak pernah mencium anaknya di khawatirkan rahmat telah di cabut oleh Allah subhaanaahu wata’aala.

Hadits no. 91

 حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسٌ، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: «مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ» صحيح

91.“Dari abu hurairah berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mencium hasan bin ‘ali dan disamping nya ada aqra bin habis at-tamimi sedang duduk, lalu aqra’ berkata : aku mempunyai sepuluh orang anak dan akj tidak pernah mencium seorangpun dari mereka. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menatap aqra’ kemudian bersabda : siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak disayang” [shohih]

Bahwasannya orang tua yang mencium anaknya ketika kecil ini merupakan suatu kasih sayang adapun ketika anak sudah besar dan orangtua ingin mencium nya sebagian ulama membolehkan dengan syarat mencium nya karena kasih sayang dan bukan karena syahwat dan tidak menciumnya di bibir.

(51) Bab adab orangtua dan kebaikannya terhadap anak 

(بَابُ أَدَبِ الْوَالِدِ وَبِرِّهِ لِوَ) 

Pada bab yang lalu imam bukhari menyebutkan bab kewajiban anak untuk berbakti kepada orang tua dan di bab ini imam bukhari membawakan tentang orang tua juga mempunyai kewajiban untuk mendidik anak nya(ayat kuu angfusikum)

Diriwayatkan dari imam baihaki beliau membawakan beberapa atsar di antaranya “didiklah anak mu karena engkau akan di mintai pertanggungjawabannya tentang anakmu,apa yang engkau ajarkan pada anakmu dan dengan cara apa engkau mendidiknya dan anak mu akan di mintai pertanggungjawaban agar berbakti dan taat kepada mu” Apabila orangtua mendidik anak dengan benar dengan kasih sayang maka insya Allah anak akan menjadi sholeh berbakti dan taat pada orang tua,dan banyak pula anak yang durhaka kepada orangtua disebabkan karena orangtua sendiri yang salah mendidik.

Hadits no. 92

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ نُمَيْرِ بْنِ أَوْسٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يَقُولُ: كَانُوا يَقُولُونَ: الصَّلَاحُ مِنَ اللَّهِ، وَالْأَدَبُ مِنَ الْآبَاءِ ضعيف

92.“Dari walid bin numair bin aus,bahwasannya ia mendengar bapaknya berkata : dahuly orang-oranf berkata : kesholehan itu berasal dari Allah sedangkan adab(pendidikan anak) berasal dari ayahnya” [dhoif]

Atsar ini secara lafaz dhoif namun maknanya shahih yaitu kesholihan itu taufiq dari Allah yang diberikan kepada anak dan harus ada usaha dari kedua orang tua kerena orangtua yang mendidik dan membesarkannya.

Hadits no. 93

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الْقُرَشِيُّ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدَ، عَنْ عَامِرٍ، أَنَّ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ حَدَّثَهُ، أَنَّ أَبَاهُ انْطَلَقَ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْمِلُهُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ نَحَلْتُ النُّعْمَانَ كَذَا وَكَذَا، فَقَالَ: «أَكُلَّ وَلَدِكَ نَحَلْتَ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَأَشْهِدْ غَيْرِي» ، ثُمَّ قَالَ: «أَلَيْسَ يَسُرُّكَ أَنْ يَكُونُوا فِي الْبِرِّ سَوَاءً؟» قَالَ: بَلَى، قَالَ: «فَلَا إِذًا» قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْبُخَارِيُّ: لَيْسَ الشَّهَادَةُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُخْصَةً. صحيح

93.“Dari nu’man bin basyir radhiyallaahu ‘anhuma, Bahwa bapaknya pernah pergi ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammembawanya, Basyir berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku ingin menjadikan engkau saksi, bahwa aku telah menghibahkan untuk Nu’man ini seperti ini dan seperti ini.” (Disebutkan bahwasanya yang dihibahkan adalah seorang budak.) Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah semua anakmu itu engkau beri sama?” Basyir menjawab, “Tidak,” maka Rasul berkata, “Carilah saksi selain aku,” kemudian beliau berkata, “Bukankah engkau itu ingin semua anakmu sama-sama berbakti kepadamu?” Basyir berkata, “Iya,” maka Rasulullah berkata, “(Jika engkau ingin semuanya sama berbakti kepadamu,) maka jangan lakukan itu! Berkata imam bukhari: Nabi menyuruh mencari saksi selain beliau ini bukan rukhshoh”[shohih]

Faidah hadits :

• Imam bukhari mengatakan tentang perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam “Carilah saksi selain aku” maksudnya ini bukan rukhshoh dari nabi ini artinya memang tidak boleh mencari saksi lain dan tidak boleh berbuat sperti itu(pilih kasih kepada anak) karena ini menzholimi anak.

• Disini orangtua pilih kasih maka janganlah demikian karena perbuatan pilihkasih terhadap anak ini salah satu sumber munculnya masalah diantara anak,bisa menyebabkan anak sakit hati,iri,dendam,membenci orang tuanya dan lain sebagainya. Bahkan dalam ciuman pun orang tua harus adil ketika orangtua mencium anak maka usahakanlah anak yang lain juga di cium.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafkhim dan tarqiq (huruf isti'la) || bag.1

Mad thobi'i dan mad badal

Mad shilah qosiroh dan mubaalaghoh