Kitab al adabul mufrad haadits ke 83-87 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah
Kitab Adabul mufrad
Karya muhammad bin isma'il al bukhari (Imam Bukhari)
- Silahkan download kajiannya [ DISINI ]
( 44) BAB BARANGSIAPA YANG BERANGAN-ANGAN SEMUA ANAK PEREMPUANNYA MATI
(باب من كره أن يتمنى موت البنات)
Bab ini menjelaskan tentang di mana ada sebagian manusia yang tidak suka mempunyai anak perempuan bahkan dia menginginkan anak perempuan itu mati dan ini sifat orang jahilayah. Allah subhaanaahu wata’aala berfirman :
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالأُنثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ. يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلْقَوْمِ مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓ ۚ أَيُمْسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُۥ فِى ٱلتُّرَابِ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَحْكُمُونَ
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu” (Qs. An nahl:58-59)
Hadits 83
ثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الْحَارِثِ أَبِي الرَّوَّاعِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ: أَنَّ رَجُلا كَانَ عِنْدَهُ ، وَلَهُ بَنَاتٌ ، فَتَمَنَّى مَوْتَهُنَّ ، فَغَضِبَ ابْنُ عُمَرَ ، فَقَالَ : أَنْتَ تَرْزُقُهُنَّ ؟ ضعيف
83."Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:“Ada seseorang yang berada di majelis ‘Abdullah bin ‘Umar, lelaki ini memiliki anak-anak perempuan, dan dia berandai-andai anak-anaknya tersebut mati. Ibnu ‘Umar marah, dan berkata, “Apakah engkau yang memberi makan mereka?(Dha’if)
Atsar ini walaupun sanadnya dha’if, tapi ada satu faedah yang bisa kita petik darinya. Tatkala ibnu umar berkata “Apakah engkau yang memberi makan mereka?” memang orang tua yang mencari rezeki,mencari makan,bekerja tapi hakikatnya Allah yang memberi rizki padanya untuk keluarganya.
Allah Ta’ala berfirman:
… وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلاَدَكُم مِّنْ إمْلاَقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ … (الأنعام: ١٥١)
“… Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, …” (QS Al-An’am: 151)
وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُم إنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْءاً كَبِيراً (الإسراء: ٣١)
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.” (QS Al-Isra’: 31)
45. BAB ANAK ADALAH PENYEBAB SIFAT KIKIR DAN PENGECUT
(باب الولد مبخلة مجبنة)
Imam bukhari membawakan bab ini sebagai isyarat bagi para orangtua di mana banyak orang tua demi anaknya menjadi bakhil,kikir untuk bersedekah dan membantu orang lain. Dan seorang ayah bisa menjadi penakut karena anaknya, dia tidak mau berangkat berjihad di jalan Allah karena dia kalau mati anaknya menjadi yatim takut tidak terurusi dan lain-lain.
Allah subhaanaahu wata’aala berfirman :
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَٲجِكُمۡ وَأَوۡلَـٰدِڪُمۡ عَدُوًّ۬ا لَّڪُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampunkan (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah At-Taghabun: 14)
Terkadang orang tua bekerja tanpa lelah karena anak,Terkadang orangtua meninggalkan ibadah karena anak,dan terkadang orang tua mencuri,koruptor karena anak nya. Dan betapapun orang tua menyayangi anak maka dia harus ingat bahwa dia juga seorang hamba yang wajib taat kepada Allah ‘azza wajalla.
Hadits ke 84
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيْثُ قَالَ: كَتَبَ إِلَيَّ هِشَامٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَوْمًا : وَاللَّهِ مَا عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ رَجُلٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ عُمَرَ ، فَلَمَّا خَرَجَ رَجَعَ ، فَقَالَ : كَيْفَ حَلَفْتُ أَيْ بُنَيَّةُ ؟ فَقُلْتُ لَهُ ، فَقَالَ : أَعَزُّ عَلَيَّ ، وَالْوَلَدُ أَلْوَطُ
84."Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:“Pada suatu hari Abu bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah, tidak ada di muka bumi ini seseorang yang lebih aku cintai daripada ‘Umar.” Kemudian Abu Bakar keluar dan kembali lagi, dia bertanya, “Wahai putriku, bagaimana aku tadi bersumpah?” Maka aku (‘Aisyah) mengatakan apa yang dia katakan tadi. Kemudian Abu Bakar berkata meralat, “Dia yang lebih mulia untukku, tetapi anak itu lebih dekat di hati.”(Hasan)
Jadi, kecintaan seseorang terhadap sahabatnya, tidak sama dengan kecintaan kepada anaknya, karena kecintaan kepada anak itu lengket, tidak ada habisnya.
Hadits ke 85
حَدَّثَنَا مُوسَى قَالَ: حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي يَعْقُوبَ، عَنِ ابْنِ أَبِي نُعْمٍ قَالَ: كُنْتُ شَاهِدًا ابْنَ عُمَرَ إِذْ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ دَمِ الْبَعُوضَةِ؟ فَقَالَ: مِمَّنْ أَنْتَ؟ فَقَالَ: مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ، فَقَالَ: انْظُرُوا إِلَى هَذَا، يَسْأَلُنِي عَنْ دَمِ الْبَعُوضَةِ، وَقَدْ قَتَلُوا ابْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «هُمَا رَيْحَانَيَّ مِنَ الدُّنْيَا» صحيح
85."Berkata pada kami musa,dari mahdi bin maimun [1],dari abi ya’kub,dari Abi nu’m berkata:”Aku pernah bersama ibnu ‘umar lalu seorang bertanya padanya tentang darah nyamuk(yang kena badan ketika ihram),ibnu umar bertanya dari mana engkau ?? Dia berkata: dari negri irak. Ibnu umar berkta: kalian saksiakan orang ini,dia bertanya padaku tentang darah nyamuk,padahal mereka(penduduk irak) telah membunuh cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : << keduanya(hasan dan husain)kekasih ku,kesayangan ku di dunia>>(Shahih)
46. BAB MENGGENDONG ANAK KECIL DI PUNDAK
(بَابُ حَمْلِ الصَّبِيِّ عَلَى الْعَاتِقِ)
Hadits ke 86
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: سَمِعْتُ الْبَرَاءَ يَقُولُ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ عَلَى عَاتِقِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ
86.“Dari Al-Barra bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggendong Hasan di pundaknya sambil beliau bersabda: “Ya Allah, aku cinta kepada dia, maka cintailah dia”(Shahih)
Hadits ini mengajarkan kepada umat islam agar mereka senantiasa mencintai hasan dan husain bin ‘ali bin abi thalib. Kemudian pelajaran juga bagi para orangtua agar mereka membesarkan anak harus dengan kasih sayang,cinta karena seorang anak itu terkadang membutuhkan waktu bersama dengan orangtua nya untuk curhat dan ingin diperhatikan.
(47) BAB ANAK ADALAH PENYEJUK MATA بَابُ الْوَلَدُ قُرَّةُ الْعَيْنِ
Hadits ke 87
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ: أَخْبَرَنَا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: جَلَسْنَا إِلَى الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ يَوْمًا، فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالَ: طُوبَى لِهَاتَيْنِ الْعَيْنَيْنِ اللَّتَيْنِ رَأَتَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللَّهِ لَوَدِدْنَا أَنَّا رَأَيْنَا مَا رَأَيْتَ، وَشَهِدْنَا مَا شَهِدْتَ. فَاسْتُغْضِبَ، فَجَعَلْتُ أَعْجَبُ، مَا قَالَ إِلَّا خَيْرًا، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ فَقَالَ: «مَا يَحْمِلُ الرَّجُلُ عَلَى أَنْ يَتَمَنَّى مُحْضَرًا غَيَّبَهُ اللَّهُ عَنْهُ؟ لَا يَدْرِي لَوْ شَهِدَهُ كَيْفَ يَكُونُ فِيهِ؟ وَاللَّهِ، لَقَدْ حَضَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْوَامٌ كَبَّهُمُ اللَّهُ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ فِي جَهَنَّمَ، لَمْ يُجِيبُوهُ وَلَمْ يُصَدِّقُوهُ، أَوَلَا تَحْمَدُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذْ أَخْرَجَكُمْ لَا تَعْرِفُونَ إِلَّا رَبَّكُمْ، فَتُصَدِّقُونَ بِمَا جَاءَ بِهِ نَبِيُّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَدْ كُفِيتُمُ الْبَلَاءَ بِغَيْرِكُمْ، وَاللَّهِ لَقَدْ بُعِثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَشَدِّ حَالٍ بُعِثَ عَلَيْهَا نَبِيٌّ قَطُّ، فِي فَتْرَةٍ وَجَاهِلِيَّةٍ، مَا يَرَوْنَ أَنَّ دِينًا أَفْضَلُ مِنْ عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ، فَجَاءَ بِفُرْقَانٍ فَرَّقَ بِهِ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ، وَفَرَّقَ بِهِ بَيْنَ الْوَالِدِ وَوَلَدِهِ، حَتَّى إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيَرَى وَالِدَهُ أَوْ وَلَدَهُ أَوْ أَخَاهُ كَافِرًا، وَقَدْ فَتْحَ اللَّهُ قُفْلَ قَلْبِهِ بِالْإِيمَانِ، وَيَعْلَمُ أَنَّهُ إِنْ هَلَكَ دَخَلَ النَّارَ، فَلَا تَقَرُّ عَيْنُهُ، وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ حَبِيبَهُ فِي النَّارِ» ، وَأنَّهَا لِلَّتِي قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ} [الفرقان: 74] صحيح
87.“Dari Jubair bin Nufair radhiyallahu ‘anhu: “Pada suatu hari kita duduk bersama Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu[2], tiba-tiba ada seseorang menghampiri, lalu berkata, “Betapa baiknya dua bola mata ini (dua bola mata Al-Miqdad bin Al-Aswad), yang keduanya pernah melihat Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam. Demi Allah, kita sangat ingin melihat apa yang telah engkau lihat, dan kita turut hadir di tempat-tempat yang engkau pernah hadir (Perang Badar, Perang Uhud, dst.).” Al-Miqdad marah dengan perkatan orang tersebut, sehingga aku (Jubair bin Nufair) jadi kebingungan (kenapa Al-Miqdad marah), padahal perkataan orang tersebut baik. Maka akhirnya Miqdad bin Aswad menghadap kepada orang tersebut dan berkata kepada dia, “Apa yang mendorong seseorang itu untuk berangan-angan hadir di tempat yang Allah membuatnya tidak hadir di tempat itu? Dia itu tidak tahu, kalau andai kata dia hidup di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, siapa yang menjamin dia dalam kondisi beriman? Demi Allah, bahwasanya telah hadir di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam banyak orang yang mereka dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke dalam api neraka Jahannam (seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan ‘Abdullah bin Ubai bin Salul) karena mereka tidak mempercayai dan memgikuti Rasulullah. Kenapa kalian tidak memuji Allah Azza wa Jalla tatkala kalian di lahirkan kalian tidak mengetahuinya kecuali hanya Tuhan kalian[3].Oleh karena itu, maka benarkanlah apa-apa yang telah dibawa oleh Nabimu shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan sudah di cukupkan untuk kalian bala di sebabkan orang-orang sebelum kalian(perjuangan-perjuangan para sahabat menegakan agama Allah). Demi Allah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah di utus di masa yang sangat sulit dari kondisi yang tidak pernah diutusnya seorang nabi pun sebelumnya, yaitu pada masafatrah (tidak diutusnya Nabi) dan masa jahiliyyah[4], yang mana mereka tidak melihat agama itu lebih baik dari menyembah berhala!.Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam datang dengan membawa (Al Furqan) sebagaipembeda antara yang hak dan yang batil, antara orang tua dan anaknya, serta sampai-sampai seseorang mendapatkan ayahnya atau anaknya, atau saudaranya dalam keadaan kafir. Sungguh Allah telah membukakan kunci pintu hatinya dengan keimanan, dan dia mengetahui jika dia tergelincir maka dia akan masuk kedalam neraka. Akan tetapi hatinya tidak terhibur (tenang) karena dia tahu bahwa kekasihnya di neraka dan seperti apa yang telah difirmankan Allah, ‘Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)…'” (Qs. Al-Furqan (25): 74)
—————- Foot not : 1. Riwayat perawi abdurrahman bin mahdi,imam syafi’i berkata tentang dia : aku tidak pernah mengetahui seseorang yang menyamai dia dalam urusan agama. Abdurrahman bin mahdi ini selain dia orang ahli hadits dia juga seorang ulama yang juhud dan ahli ibadah di sebutkan bahwa beliau biasa berhaji setiap tahun dan biasa menghatamkan al-quran. Beliau meninggal dunia thn 198H
2. Miqdad adalah salah seorang sahabat nabi yang termasuk pertama-tama masuk islam, dan yang ikut hijrah ke madinah dan negri habasya dan di perang badar dan ia sahabat satu-satu nya yg naik kuda.
3. Kita harus bersyukur kepad Allah yg telah melahirkan dari keturunan muslim dan kita pun tidak tahu tentang kondisi-kondisi jahiliyah yg dimana jaman yg sangat buruk sekali.
4. Masa yang amat sulit,masa yang sangat buruk dimana pada waktu itu sering terjadi perjinahan,pembunuhan,perampokan,kesyirikan dimana-mana dan kezhaliman.

Komentar
Posting Komentar