Kitab al adabul mufrad haadits ke 69-74 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah

Kajian kitab adabul mufrad

Karya Muhammad bin isma’il al bukhari (imam bukhari).

• Silahkan download kajiannya [ DISINI ]

(35) Bab keutamaan orang yang menyambung shilaturahim pada kerabat yang zhalim

(بَابُ فَضْلِ مَنْ يَصِلُ ذَا الرَّحِمِ الظَّالِمَ)

Hadits no.69

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ طَلْحَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ، عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ ، فَقَالَ : يَا نَبِيَّ اللَّهِ ، عَلِّمْنِي عَمَلًا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ ، قَالَ : لَئِنْ كُنْتَ أَقَصَرْتَ الْخُطْبَةَ لَقَدْ أَعْرَضْتَ الْمَسْأَلَةَ ، أَعْتِقِ النَّسَمَةَ ، وَفُكَّ الرَّقَبَةَ ، قَالَ : أَوَ لَيْسَتَا وَاحِدًا ؟ قَالَ : لا ، عِتْقُ النَّسَمَةِ أَنْ تَعْتِقَ النَّسَمَةَ ، وَفَكُّ الرَّقَبَةِ أَنْ تُعِيْنَ عَلَى الرَّقَبَةِ ، وَالْمَنِيْحَةُ الرَّغُوبُ ، وَالْفَيْءُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ ، فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ ، فَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ ، وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ ، فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ ، فَكُفَّ لِسَانَكَ إِلا مِنْ خَيْرٍ – صحيح

69.“Dari barra berkata; Pernah datang seorang Arab Badui menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata, “Wahai Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam, beri aku amalan agar aku masuk surga?” Beliau bersabda, “Engkau telah berucap pendek namun yang engkau tanyakan panjang sekali. Bebaskan budak dan lepaskan budak!” Badui itu bertanya, “Apa yang engkau sampaikan bukankah sama (satu hal)?! Rasulullah bersabda, “Tidak sama! Yang namanya membebaskan budak adalah membebaskan budak (melepaskannya), adapun melepaskan budak maksudnya adalah membantu bagaimana budak itu dilepaskan, memberikan sesuatu yang dicintai, serta berbuat baik kepada kerabat(di dalam riwayat Baihaqi, disebutkan “berbuat baik kepada keluarga / kerabat yang dzalim.”). Dan kalau engkau tidak mampu melakukan itu, maka beramar ma’ruf dan nahi munkar-lah. Dan jika engkau tidak mampu, kau tahan lidahmu (tidak berbicara) kecuali kebaikan.”[ shahih]

Faidah hadits ini: 

  • Perawi hadits Thalhah bin amr bin musharrif adalah seorang ahli hadits dari kuffah yang berusaha menjaga keikhlasan ilmunya dan dia juga seorang ulama ahli qira’at dan salah satu guru mengajar al-qur’an yang terkenal di kuffah. Di ceritakan ketika thalhah masih hidup,suatu ketika berkumpul para ahli ilmu,pengajar al-qur’an di kuffah mereka bermusyawarah bersama bahwa seorang hamba yang paling pandai membaca al-qur’an di kuffah adalah thalhah bin amr bin musharrif. Ketika perkataan itu sampai pada thalhah,dia langsung pergi berangkat menuju majlisnya a’masy,dia belajar menuntut ilmu dari a’masy dan duduk bersama murid-murid yang lain,karena dia takut penyakit riya,uzub menghampiri hatinya,dia benar-benar orang yang menjaga keikhlasan dalam ilmu nya.A
  • Arab baduy memanggil Rosulullah dengan “ya nabiyallah” memang kita dilarang ketika memanggil Rosulullah dengan namanya,Allah berfirman :لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚۚ “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)”Qs. An-nur:63
  • Orang arab baduy bertanya bukan masah harta,bukan masalah dunia tapi masalah amalan yang dapat memasukan kesurga,dan hendaknya motivasi terbesar dalam hidup kita di dunia ini adalah bagaimana kita bisa meraih kebahagian di akhirat,hidup kita di dunia ini semuanya untuk akhirat.
  • Maksud melepaskan budak adalah membantu melepaskan budak dari hukuman qishas atau mengeluarkan dari penjara karena utang dan lain-lain.
  • Hadits ini menunjukan betapa cintanya Rasulullah terhadap umatnya,beliau memberi nasihat berupa jawaban amalan yang dapat memasukan ke surga ini tidak hanya satu tapi banyak.

(36) Bab orang yang menyambung shilaturahim pada masa jahiliyah kemudian dia masuk islam

(بَابُ مَنْ وَصَلَ رَحِمَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ثُمَّ أَسْلَمَ)

Hadits no. 70

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّهُ قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، مِنْ صِلَةٍ ، وَعَتَاقَةٍ ، وَصَدَقَةٍ ، فَهَلْ لِي فِيهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ حَكِيمٌ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ – صحيح

70.“Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentanng perkara-perkara yang aku lakukan di masa Jahiliyah (sebelum beragama Islam), dari silaturahmi (berbuat baik kepada kerabat), membebaskan budak-budak, dan sedekah-sedekah yang aku lakukan, kira-kira ada pahala tidak buatku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Engkau masuk Islam bersama semua kebaikan yang pernah engkau lakukan sebelumnya.”[shahih]

Faidah hadit ini:

  •  Hakim bin hizam adalah keponakan khadijah, dan dia juga termasuk tokoh quraisy yang banyak melakukan amal kebajikan di masa jahiliyah.
  • Semua amal kebaikan yang di kerjakan orang non muslim,tatkala dia masuk islam maka amal kebaikan itu tetap di catat di sisi Allah subhaanahu wata’aalaa. Dan yang di bersihkan itu hanya dosa-dosanya. Dan ini merupakan bentuk kasih sayang Allah terhadap hambanya yang bertaubat.

(37) Bab berbuat baik pada kerabat yang musyrik dan memberikan hadiah

(بَابُ صِلَةِ ذِي الرَّحِمِ الْمُشْرِكِ وَالْهَدِيَّة)

Hadits no. 71

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ،رَأَى عُمَرُ حُلَّةً سِيَرَاءَ فَقَالَ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَوِ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ ، فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَلِلْوُفُودِ إِذَا أَتَوْكَ ، فَقَالَ : يَا عُمَرُ ، إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لا خَلاقَ لَهُ ، ثُمَّ أُهْدِيَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا حُلَلٌ ، فَأَهْدَى إِلَى عُمَرَ مِنْهَا حُلَّةً ، فَجَاءَ عُمَرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، بَعَثْتَ إِلَيَّ هَذِهِ ، وَقَدْ سَمِعْتُكَ قُلْتَ فِيهَا مَا قُلْتَ ، قَالَ : إِنِّي لَمْ أُهْدِهَا لَكَ لِتَلْبَسَهَا ، إِنَّمَا أَهْدَيْتُهَا إِلَيْكَ لِتَبِيعَهَا أَوْ لِتَكْسُوَهَا ، فَأَهْدَاهَا عُمَرُ لأَخٍ لَهُ مِنْ أُمِّهِ مُشْرِكٍ – صحيح

71.“Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma: Pernah suatu saat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu melihat pakaian dua potong (atasan dan bawahan) dari benang-benang sutra, ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, andai kata engkau membeli baju ini dan engkau pakai pada waktu hari Jumat dan pada waktu berjumpa dengan duta-duta besar (dari negeri-negeri) yang datang menemuimu.” Maka Rasulullah bersabda, “Wahai ‘Umar, yang pakai pakaian ini adalah orang yang tidak ada bagian bagi dia di akhirat kelak.” Kemudian setelah berselang beberapa waktu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan hadiah pakaian-pakaian dari sutra, kemudian dikirimlah (dihadiahkan) kepada ‘Umar. Datanglah ‘Umar kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, engkau hadiahkan ini kepadaku padahal aku sudah dengar ucapanmu tentang masalah hukum baju ini.” Rasulullah bersabda, “Aku hadiahkan itu kepadamu bukan agar kau pakai. Aku hadiahkan kepadamu itu supaya engkau bisa menjualnya atau memberikannya kepada orang lain.” ‘Umar memberikan pakaian itu kepada saudara seibunya yang masih musyrik.” [shahih]

Faidah hadits ini:

  •  Disunnahkan ketika shalat jum’at memakai pakaian yang bagus. Dan di anjurkan pula memakai baju yang bagus ketika kita menjamu tamu yang di hormati oleh masyarakat atau ketika pemimpin bertemu dengan para pembesar negara.
  • Pada hakikatnya pakaian dari sutra ini di bokehkan tapi tidak boleh di pakai oleh muslim laki-laki dan boleh di pakai oleh muslim perempuan dan boleh juga pakaian dari sutra untuk di jual.
  • Boleh nya memberikan hadiah pada keluarga yang masih musyrik atau pada orang-orang yang non muslim.
  • Apabila ada Keluarga yang kafir,maka kita masih di wajibkan untuk menjalin kekerabatan dengannya.

(38) Bab pelajarilah oleh kalian dari nasab kalian karena dengannya kalian bisa menyambung shilaturahim

(بَابُ تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ )

Hadits no. 72

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَتَّابُ بْنُ بَشِيرٍ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ رَاشِدٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، أَنَّ جُبَيْرَ بْنَ مُطْعِمٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ: تَعَلَّمُوا أَنْسَابَكُمْ ، ثُمَّ صِلُوا أَرْحَامَكُمْ ، وَاللَّهِ إِنَّهُ لِيَكُونُ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ أَخِيهِ الشَّيْءُ ، وَلَوْ يَعْلَمُ الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ مِنْ دَاخِلَةِ الرَّحِمِ ، لأَوْزَعَهُ ذَلِكَ عَنِ انْتِهَاكِهِ – حسن الإسناد وصح مرفوعا

72.“Dari Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuberpidato di atas mimbar, ‘Umar berkata:Kalian belajarlah nasab-nasab kalian lalu sambunglah silaturahmi kalian. Demi Allah sesungguhnya terkadang terjadi sesuatu antara seseorang dengan saudaranya. Andai kata dia tahu apa ikatan yang terjadi antara dia dan saudaranya itu (di dalam rahim), niscaya itu akan membuat dia mengurungkan niatnya untuk memutuskan / merusak hubungan rahim / kekerabatan.” [ sanadnya hasan dan shahih secara marfu’ ] 

Hadits no. 73

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَعْقُوبَ قَالَ: أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَاهُ يُحَدِّثُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ: احْفَظُوا أَنْسَابَكُمْ، تَصَلُوا أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّهُ لَا بُعْدَ بِالرَّحِمِ إِذَا قَرُبَتْ، وَإِنْ كَانَتْ بَعِيدَةً، وَلَا قُرْبَ بِهَا إِذَا بَعُدَتْ، وَإِنْ كَانَتْ قَرِيبَةً، وَكُلُّ رَحِمٍ آتِيَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمَامَ صَاحِبِهَا، تَشْهَدُ لَهُ بِصِلَةٍ إِنْ كَانَ وَصَلَهَا، وَعَلَيْهِ بِقَطِيعَةٍ إِنْ كَانَ قَطَعَهَا – صحيح الإسناد وصح مرفوعا

73.“Dari ibnu ‘abbas bahwasannya dia berkata:Peliharalah nasabmu,sambunglah tali silaturrahimmu, karena rahim tidak menjadi jauh apabila kamu mendekat -sekalipun rahim itu jauh- dan rahim tidak menjadi dekat apabila kamu menjauh (darinya) -sekalipun rahim itu dekat- Setiap rahim akan datang pada hari kiamat di hadapan pemiliknya, seraya menyaksikan terhadapnya (dihadapan Allah), jika dia menjalin silaturrahim, maka (dikatakan) termasuk orang yang menyambungnya dan jika dia memutuskannya maka (dikatakannya) termasuk orang yang memutuskannya.” [ sanadnya shahih dan shahih secara marfu’]

perkataan ‘Umar dan ibnu ‘abbas di atas,perkataan ini juga pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

(39) Bab Apakah Boleh Maula itu Berkata “Aku dari Kabilah Fulan”

(بَابُ: هَلْ يَقُولُ الْمَوْلَى: إِنِّي مِنْ فُلَانٍ؟ )

Hadits no. 74

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ قَالَ: حَدَّثَنَا وَائِلُ بْنُ دَاوُدَ اللَّيْثِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ قَالَ: قَالَ لِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ: قَالَ لِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ : ” مِمَّنْ أَنْتَ ؟ قُلْتُ : مِنْ تَيْمِ تَمِيمٍ ، قَالَ : مِنْ أَنْفُسِهِمْ أَوْ مِنْ مَوَالِيهِمْ ؟ قُلْتُ : مِنْ مَوَالِيهِمْ ، قَالَ : فَهَلا قُلْتَ : مِنْ مَوَالِيهِمْ إِذًا ؟ – ضعيف

74.“‘Dari ‘Abdurrahman bin Habib, berkata: Abdullah bin ‘Umar telah bertanya kepadaku, “Engkau dari kabilah mana?” Aku menjawab, “Dari Taim-nya Bani Tamim” Ibnu ‘Umar bertanya, “Kau termasuk asli kabilah itu atau maula mereka?” Aku menjawab, “Aku dari maula mereka.” Ibnu ‘Umar berkata, “Kenapa kau tidak berkata dari awal kalau kau dari maula mereka?”[dhaif]

Ini perkataan Ibnu ‘Umar, tapi ini atsar dha’if, karena pada hakikatnya boleh seseorang mengatakan dari kelompok Fulan, sebagaimana dalam bab yang selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafkhim dan tarqiq (huruf isti'la) || bag.1

Mad thobi'i dan mad badal

Mad shilah qosiroh dan mubaalaghoh