Kitab al adabul mufrad haadits ke 52-62 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah
Kajian kitab al adabul mufrad Karya Imam bukhari Disampaikan oleh ustadz Dr.Syafiq riza basalamah. radio rodja dan rodja tv
• silahkan simak dan download kajiannya DISINI
27.Bab keutamaan menyambung shilaturahim(بَابُ فَضْلِ صِلَةِ الرَّحِمِ)
Hadits 52
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنِ الْعَلَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونَ، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ، قَالَ: «لَئِنْ كَانَ كَمَا تَقُولُ كَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ، وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ» قال الشيخ الألباني : صحيح
52."Dari Abu hurairah berkata:“Telah atang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamberkata, “Wahai Rasulullah, aku ini punya kerabat yang aku menyambung silaturahmi, tetapi mereka memutuskan hubungan denganku, Aku berusaha untuk berbuat baik kepada mereka, tapi ternyata mereka berbuat jahat denganku. Mereka itu berbuat tindakan yang bodoh / menjahili aku, padahal aku bersabar menghadapi mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kalau benar seperti yang kamu ucapkan, maka seakan-akan engkau memberi makan mereka abu yang panas (yang membakar perut mereka) dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolong bagimu selama kamu berbuat demikan.” Berkata syaikh al-bani : shahih
Faidah hadits ini:
- Hadits ini menunjukan bahwa apabila kita dirundung masalah tak kunjung henti atau masalah yang sangat menyesakkan dada maka hendaklah kita mendatangi orang-orang yang berilmu,orang yang bertakwa,orang yang beriman pada Allah dan hari akhir untuk meminta nasihat atau petuah padanya tentang masalah yang sedang di hadapi seperti orang yang di dalam hadits ini dia datang pada nabi untuk mengadukan masalahnya
- Apabila kita senantiasa menjalin hubungan baik dengan saudara akan tetapi saudar malah membalas buruk maka kita sama dengan memberi makan saudara dengan abu panas,artinya kata para ulama akan semakin hina.
- Hendaklah apabila kita berbuat baik pada seseorang baik itu saudara atau orang lain,jangan sampai mengharapkan balasan dari mereka walaupun hanya sekedar ucapan terimakasih,karena sejatinya kita berbuat baik pada seseorang itu buat kebaikan kita sendiri. Allah berfirman: إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَه “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri”Qs al-isra(17):7
Hadits 53
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَخِي، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي عَتِيقٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ أَبَا الرَّدَّادِ اللَّيْثِيَّ أَخْبَرَهُ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَنَا الرَّحْمَنُ، وَأَنَا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنَ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ “ [قال الشيخ الألباني] : صحيح
53."Dari ’Abdurrahman bin ‘auf; bahwasannya dia mendengar Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku Ar-Rahman(Yang Maha Pengasih),Aku telah menciptakan rahim yang Aku ambilkan dari nama Ku, barangsiapa menjalin hubungan silaturrahim maka Aku akan menyambungkannya dan barang siapa memutus hubungan silaturrahim, maka Aku akan putuskan hubungan dengannya.” Berkata syaikh al-bani : shahih
Hadits 54
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ، عَنْ أَبِي الْعَنْبَسِ قَالَ: دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فِي الْوَهْطِ – يَعْنِي أَرْضًا لَهُ بِالطَّائِفِ – فَقَالَ: عَطَفَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِصْبَعَهُ فَقَالَ:[قال الشيخ الألباني] : صحيح
54."Dari Abu Al Anbas,dia berkata, “Aku mengunjungi Abdullah ibnu Umar di kampung Wahth -yakni tanahnya yang di Thaif-lalu berkata,’Rasulullah shallallallahu ‘alaihi wasallam merapatkan jarinya kepadaku lalu bersabda,“Rahim adalah bagian dari Ar-Rahman(Yang MahaPengasih). Barang siapamenjalinnya (hubungan silaturrahim), maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa memutuskannya (hubungan Silaturrahmi), maka Allah akan memutuskannya. Rahim mempunyai lisan yang fasih dan lancar pada hari kiamat nanti.” Berkata syaikh al-bani: shahih
Hadits 55
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ: حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي مُزَرِّدٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ اللَّهِ، مَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللَّهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللَّهُ» [قال الشيخ الألباني] : صحيح
55."Dari ‘aaisyah radhiyallaahu ‘anha;bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rahim itu sebagian rahmat Allah.Barang siapa menjalin hubungansilaturrahmi,maka Allah akan menjalin hubungannya dan barang siapa memutus hubungan silaturrahimbmaka Allah akan memutuskannya.” Berkata syaikh al bani: Shahih
Faidah ke tiga hadits diatas:
- Hadits ini menunjukan bahwa orang yang menjalin silaturahim maka Allah akan jalin hubungan dengannya yakni akan selalu di berikan rahmat Allah subhaanahu wata’aala,hidupnya akan senantiasa tenang,tentram,semua urusan hidupnya akan senantiasa di permuda,,Dan begitu sebaliknya orang yang memutuskan silaturahim maka Allah akan putuskan hubungan dengannya,maka akan di putuskan rahmatnya,hidupnya akan senantiasa di rundung masalah,semua urusan akan menjadi sulit.
- Rahim akan menjadi saksi pada hari kiamat di hadapan Allah subhaanahu wata’aalaa,atas orang yang menjalin shilaturahim dan orang yang memutuskan shilaturahim.
28.Bab menyambung shilaturahim dapat menambah umur(بَابُ صِلَةِ الرَّحِمِ تَزِيدُ فِي الْعُمْرِ)
Hadits 56
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيْثُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَقِيلٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ» [قال الشيخ الألباني] : صحيح
56."Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuberkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang ingin rizqinya diperluas dan umurnya ditambah, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”[ Berkata syaikh al-bani: shahih]
Hadits 57
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْنٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ» [قال الشيخ الألباني] : صحيح
57.“Barang siapa ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya menjalinsilaturrahim.” [Berkata syaikh al-bani: Shahih]
Faidah hadits ini:
- Ketika kita shilaturahim,berbagi,sedekah pada saudara atau kerabat maka jangan takut muskin.
- Maksud di panjangkan umur adalah berkata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin;“Hadits ini tidaklah bermakna bahwa seseorang memiliki dua umur yang berbeda; umur jika ia menyambung rahimnya dan umur jika ia tidak menyambung rahimnya Setiap orang hanya memiliki satu umur dan yang ditetapkan baginya juga hanya satu Seseorang yang ditakdirkan oleh Allah,akan menyambung rahimnya, ia pasti akan menyambung rahimnya. Adapun orang yang ditakdirkan oleh Allah memutus hubungan rahimnya, pasti dan mesti, tidak mungkin tidak, ia akan memutus rahimnya. Akan tetapi, Rasulullah ingin mendorong umat beliau untuk melakukan amalan yang mengandung kebaikan. Sebagaimana kita katakan, ‘Siapa yang ingin punya anak, hendaklah ia menikah.’ Urusan menikah sudah ditetapkan, demikian pula anak. Jika Allah menghendaki engkau memiliki anak niscaya Dia menginginkan engkau menikah, bersamaan dengan itu menikah dan memiliki anak masing-masingnya telah ditetapkan. Demikian pula tentang rezeki yang telah dicatat dan ditetapkan dari asalnya. Telah pula ditetapkan bahwa engkau akan menyambung rahimmu. Akan tetapi, engkau tidak tahu tentang hal ini. Maka dari itu, Nabi mendorong dan menerangkan kepadamu bahwa jika engkau menyambung rahimmu, Allah akan membentangkan rezekimu dan memanjangkan umurmu. Walaupun segala sesuatu telah ditetapkan, namun karena silaturahim adalah hal yang semestinya ditunaikan oleh setiap insan, Nabi memberi dorongan untuk melakukannya, dengan pernyataan beliau bahwa jika seseorang ingin rezekinya dilapangkan dan umurnya dipanjangkan, hendaknya ia menyambung rahimnya. Di sisi lain, perbuatan orang yang menyambung hubungan rahim telah ditetapkan dan telah pula ditetapkan umurnya sampai batas yang dikehendaki oleh Allah subhaanahu wata’aalaa. Kemudian, ketahuilah bahwa panjangnya umur dan lapangnya rezeki adalah urusan yang nisbi (relatif). Oleh karena itu, kita mendapati sebagian orang yang menyambung rahimnya rezekinya lapang pada beberapa urusan, namun umurnya pendek. Ini adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Kita katakan bahwa umurnya pendek padahal dia telah menyambung hubungan rahim. Seandainya dia tidak menyambung rahimnya, niscaya umurnya lebih pendek lagi. Akan tetapi, Allah l telah menetapkan sejak zaman azali bahwa orang ini akan menyambung rahimnya dan telah menetapkan akhir umurnya sampai waktu tertentu.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 2/111-112, fatwa no. 210)
29.Bab barangsiapa yang menyambung shilaturahim maka Allah akan mencintainya(بَابُ مَنْ وَصَلَ رَحِمَهُ أَحَبَّهُ اللّٰهُ)
Hadits 58
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ مَغْرَاءَ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسِّئَ فِي أَجَلِهِ، وَثَرَى مَالُهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ [قال الشيخ الألباني] : حسن
58."Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaberkata; “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi, maka ajalnya akan diundur, hartanya akan diperbanyak, dan akan dicintai oleh keluarganya.” Berkata syaikh al-bani: Hasan
Hadits 59
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ: حَدَّثَنِي مَغْرَاءُ أَبُو مُخَارِقٍ هُوَ الْعَبْدِيُّ، قَالَ ابْنُ عُمَرَ: مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، أُنْسِئَ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَثَرَى مَالُهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ [قال الشيخ الألباني] : حسن
59."Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhumaberkata; “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi, maka ajalnya akan diundur, hartanya akan diperbanyak, dan akan dicintai oleh keluarganya.” Berkata syaikh al-bani: Hasan
Keterangan hadits:
- Kedua atsar dari ibnu umar ini di bawakan oleh imam bukhari dengan perawi yang berbeda
Buah manis lain untuk orang yang telah dicintai Allah adalah ia akan dicintai dan diterima di tengah penduduk bumi. Disebutkan dalam al-Shahih,
إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ
“Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyeru, sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia. Lalu Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru penghuni langit, sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah ia oleh kalian. Lalu penghuni langit mencintainya. Kemudian diberikan padanya penerimaan di bumi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, lafadz milik Al-Bukhari)
Dalam riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai seorang hamba, Dia menyeru Jibril seraya berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah ia. Lalu Jibril pun mencintainya. Kemudia Jibril menyeru di langit seraya berkata: Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia. Maka penduduk langit mencintainya. Kemudian dijadikan untuknya penerimaan di bumi. Sebaliknya, apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia menyeru Jibril seraya berfirman: Sesungguhnya Aku membenci fulan maka bencilah ia. Maka JIbril membencinya. Lalu Jibril menyeru pada penduduk langit: Sesungguhnya Allah membenci fulan, maka bencilah ia. Lalu penduduk langit membencinya. Kemudian diletakkan untuknya kebencian padanya di bumi.”
30.Bab berbuat baik pada kerabat terdekat dan seterusnya(بَابُ بِرِّ الْأَقْرَبِ فَالْأَقْرَبِ)
Hadits 60
حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ قَالَ: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، عَنْ بَحِيرٍ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِالْأَقْرَبِ فَالْأَقْرَبِ» [قال الشيخ الألباني] : صحيح
60."Dari Miqdam bin Ma’di Kariba radhiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Sesungguhnya Allah Jalla Jalaluh mewasiatkan kepada kalian agar kalian berbakti (berbuat amal kebajikan) untuk ibu-ibu kalian, kemudian untuk ibu-ibu kalian, kemudian untuk bapak-bapak kalian, kemudian untuk kerabat kalian yang lebih dekat dan yang lebih dekat (yang lebih dekat yang dianjurkan).” Berkata syaikh al-bani: Shahih
Hadits 61
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْخَزْرَجُ بْنُ عُثْمَانَ أَبُو الْخَطَّابِ السَّعْدِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو أَيُّوبَ سُلَيْمَانُ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ: جَاءَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَشِيَّةَ الْخَمِيسِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ: أُحَرِّجُ عَلَى كُلِّ قَاطِعِ رَحِمٍ لَمَا قَامَ مِنْ عِنْدِنَا، فَلَمْ يَقُمْ أَحَدٌ حَتَّى قَالَ ثَلَاثًا، فَأَتَى فَتًى عَمَّةً لَهُ قَدْ صَرَمَهَا مُنْذُ سَنَتَيْنِ، فَدَخَلَ عَلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ: يَا ابْنَ أَخِي، مَا جَاءَ بِكَ؟ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ كَذَا وَكَذَا، قَالَتِ: ارْجِعْ إِلَيْهِ فَسَلْهُ: لِمَ قَالَ ذَاكَ؟ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ عَلَى اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَشِيَّةَ كُلِّ خَمِيسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَلَا يَقْبَلُ عَمَلَ قَاطِعِ رَحِمٍ» [قال الشيخ الألباني] : ضعيف
61."Abu ayyub sulaiman berkata: Abu hurairah sempat mendatangi kami pada sore hari kamis malam jum’at,abu hurairah berkata: aku meminta dengan sangat pada orang yang memutuskan rahimnya untuk berdiri dari majlis kita,lalu tidak ada yang berdiri,sampai tiga kali berkata.kemudian bangunlah anak muda lalu dia datang pada bibinya yang sudah dua tahun terputus,kemudian dia masuk padanya lalu bibinya bertanya; Wahai putra saudara ku apa yang menyebabkan kau datang kesini ? Aku mendengar abu hurairah berkata ini dan ini.berkata bibinya;kembalilah pada abu hurairah kenapa dia berkata demikian?(pemuda ini kembali) berkata abu hurairah; sesungguhnya amalan bani adam di paparkan pada Allah pada malam kamis dan jum’a,maka tidak di terima amalan orang yang memutuskan rahimnya.” Berkata syaikh al bani : Dhoif
Keterangan hadits ini:
- Hadits ini secara sanad dhoif ,perawi al khazraj bin ‘utsman abul khaththab as sa’di,dia adalah dhoif tapi maknanya yang shahih adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا “Pintu surga dibuka pada hari Senin dan kamis. Setia hamba yang tidak berbuat syirik pada Allah sedikit pun akan diampuni (pada hari tersebut) kecuali seseorang yang memiliki percekcokan (permusuhan) antara dirinya dan saudaranya. Nanti akan dikatakan pada mereka, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai, akhirkan urusan mereka sampai mereka berdua berdamai.” (HR. Muslim no. 2565).
Hadits 62
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِمْرَانَ بْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ جَابِرٍ الْحَنَفِيُّ، عَنْ آدَمَ بْنِ عَلِيٍّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ: مَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا إِلَّا آجَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى فِيهَا، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، فَإِنْ كَانَ فَضْلًا فَالْأَقْرَبَ الْأَقْرَبَ، وَإِنْ كَانَ فَضْلًا فَنَاوِلْ [قال الشيخ الألباني] : ضعيف
62."Dari ibnu ‘umar: Tidaklah seorang itu memgeluarkan nafkah untuk dirinya sendiri dan keluarga nya,semata-mata mengharap pahala kecuali Allah akan berikan pahala buat dia.Dan mulailah memberi nafkah dari orang yang menjadi tanggung jawab mu,jika ada lebih maka kerabat yang terdekat,lalu pada orang yang kau kehendaki” Berkata syaikh al bani:Dhoif
Keterangan atsar ini:
- Atsar ini secara sanad dhoif namun maknanya shahih sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جُهْدُ الْمُقِلِّ وَ ابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ “Sedekah yang paling utama adalah sedekah maksimal orang yang tidak punya, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Abu Dawud dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1112)H
- Hendaklah bershodakoh di mulai dari orang yang menjadi tanggungan kita dan seandainya masih ada harta kita yang lebih baru bersedekah pada kerabat dekat atau orang lain.

Komentar
Posting Komentar