Kitab al adabul mufrad haadits ke 124-130 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah

Kitab Adabul mufrad

Karya Muhammad bin Isma'il al bukhari(Imam Bukhari) 


  • Download kajiannya [ DISINI ]


  (68) Bab pengaduan tetangga

 ( بَابُ شِكَايَةِ الْجَارِ)

Hadits ke 124

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ لِي جَارًا يُؤْذِينِي ، فَقَالَ : انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَتَاعَكَ إِلَى الطَّرِيقِ ، فَانْطَلَقَ ، فَأَخْرِجَ مَتَاعَهُ ، فَاجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ فَقَالُوا : مَا شَأْنُكَ ؟ قَالَ : لِي جَارٌ يُؤْذِينِي ، فَذَكَرْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَتَاعَكَ إِلَى الطَّرِيقِ ، فَجَعَلُوا يَقُولُونَ : اللَّهُمَّ الْعَنْهُ ، اللَّهُمَّ أَخْزِهِ ، فَبَلَغَهُ ، فَأَتَاهُ فَقَالَ : ارْجِعْ إِلَى مَنْزِلِكَ ، فَوَاللَّهِ لا أُؤْذِيكَ . [قال الشيخ الألباني] : حسن صحيح

124. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Seorang laki berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, aku memiliki tetangga yang suka menyakiti / menggangguku, (apa yang harus aku lakukan)?” Maka berkatalah Rasul, “Pulanglah engkau, keluarkan perabotan rumahmu ke jalan.” Maka lelaki tersebut pun langsung pulang dan mengeluarkan perabotannya, maka orang-orang pun seketika berkumpul kepadanya, mereka berkata, “Ada apa engkau mengeluarkan barang-barangmu?” Orang laki tersebut berkata, “Aku keluarkan barang ini dikarenakan aku memiliki tetangga yang suka menyakitiku, maka aku melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan beliau memerintahkan kepadaku agar aku pulang dan mengeluarkan perabotan rumahku di jalan.” Maka orang-orang yang berkerumun tersebut berkata, “Semoga Allah melaknat dia (menjauhkan dia dari rahmatNya), semoga Allah menghinakan dia.” Maka tetangga yang suka menyakitinya akhirnya mengetahui hal tersebut, maka sang tetangga mendatangi orang yang disakitinya tersebut, “Pulanglah engkau ke rumahmu, demi Allah, aku tidak akan menyakitimu.””

Faidah hadits : 

  • Seseorang boleh mengadukan orang lain serta menceritakan perbuatan orang lain yang menyakiti kita kepada ‘alim ‘ulama,ahli ilmu atau pihak berwajib yang berwenang menangani perkara tersebut.
  • Sebagai da’i atau orang yang berilmu hendaklah ia bersabar untuk mendengarkan umat ketika ada yang mengadukan masalahnya untuk mencari solusi. Mungkin diantara masyarakat ada yang mengadukan tentang keluarganya,sahabat dan lain-lain,seperti seorang sahabat dalam hadits ini dia mengadukan sikap tetangga nya kepada Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam.
  • Hadits ini dijadikan dalil bagi sebagian ulama tentang boleh nya melaknat seseorang secara personal.

Hadits ke 125

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَكِيمٍ الْأَوْدِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ أَبِي عُمَرَ، عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ: شَكَا رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَارَهُ، فَقَالَ: «احْمِلْ مَتَاعَكَ فَضَعْهُ عَلَى الطَّرِيقِ، فَمَنْ مَرَّ بِهِ يَلْعَنُهُ» ، فَجَعَلَ كُلُّ مَنْ مَرَّ بِهِ يَلْعَنُهُ، فَجَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَا لَقِيتُ مِنَ النَّاسِ؟ فَقَالَ: «إِنَّ لَعْنَةَ اللَّهِ فَوْقَ لَعْنَتِهِمْ» ، ثُمَّ قَالَ لِلَّذِي شَكَا: «كُفِيتَ» أَوْ نَحْوَهُ [قال الشيخ الألباني] : حسن صحيح

125. “Dari abu juhaifah berkata : ada seseorang memgadukan kepada Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam tetntang tetangganya,Nabi bersabda : ” bawalah perabotan rumahmu dan letakanlah di jalan, maka barang siapa yang melewati (perabotan rumahmu) maka dia akan melaknat tetanggamu. Maka setiap ada orang yang lewat dia akan melaknat tetangga mu itu, lalu datanglah tetangga(yang zholim itu) kepada Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam dan berkata : apa yang aku dapatkan dari semua orang(karena mereka semua melaknat ku) ? Nabi bersabda : sesungguhnya laknat Alloh di atas laknatnya mereka,[hasan shohih]

Faidah hadits :

  • Hati-hati bagi orang yang suka menyakiti tetangga,karena laknat Alloh akan turun kepada orang yang suka menyakiti tetangga,akan dijauhkan rahmat bagi orang yang suka menyakiti tetangga.

Hadits ke 126

حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو زُهَيْرٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَغْرَاءَ قَالَ: حَدَّثَنَا الْفَضْلُ يَعْنِي ابْنَ مُبَشِّرٍ قَالَ: سَمِعْتُ جَابِرًا يَقُولُ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعْدِيهِ عَلَى جَارِهِ، فَبَيْنَا هُوَ قَاعِدٌ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ إِذْ أَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَآهُ الرَّجُلُ وَهُوَ مُقَاوِمٌ رَجُلًا عَلَيْهِ ثِيَابٌ بَيَاضٌ عِنْدَ الْمَقَامِ حَيْثُ يُصَلُّونَ عَلَى الْجَنَائِزِ، فَأَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنِ الرَّجُلُ الَّذِي رَأَيْتُ مَعَكَ مُقَاوِمَكَ عَلَيْهِ ثِيَابٌ بِيضٌ؟ قَالَ: «أَقَدْ رَأَيْتَهُ؟» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: رَأَيْتَ خَيْرًا كَثِيرًا، ذَاكَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَسُولُ رَبِّي، مَا زَالَ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ جَاعِلٌ لَهُ مِيرَاثًا ” [قال الشيخ الألباني] : ضعيف

126. “Dari jaabir dia berkata: sesorang datang kepada Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam mengadukan kepada beliau tentang tetangganya, tatkala dia duduk diantara rukun dan maqom(yakni hajar aswad dan maqom ibrohim), tiba-tiba Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam datang dan laki-laki tersebut melihat Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam berbicara dengan seorang laki-laki yang memakai pakaian putih disisi maqom ibrohim di tempat mereka menyolatkan jenazah. Lalu Nabi pun datang dan laki-laki itu berkata : bapa dan ibuku menjadi tebusan untukma wahai Rosululloh ! Wahai Rosululloh siapakah yang aku lihat lelaki bersamamu yang berbicara yang memakai pakain putih ? Nabi bertanya : apakah engkau melihat nya ? Jawab lelaki itu : iya. Nabi bersabda : sungguh engkau telah melihatbkebaikan yang banyak,dia itu jibril yang diutus oleh robku,dia terus menerus berwasiat kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai aku mengira bahwa tetangga itu akan mendapatkan bagian warisan.[dhoif]

Kisah ini dhoif,tapi hadits ini shohih tentang jibril senantiasa mewasiatkan kepada Nabi untuk berbuat baik kepada tetangganya.

(69) Bab barangsiapa yang menyakiti tetangganya sampai dia terpaksa pindah

 (باب من آذى جاره حتى يخرج)

Hadits ke 127 

حَدَّثَنَا عِصَامُ بْنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَرْطَاةُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ: سَمِعْتُ، يَعْنِي أَبَا عَامِرٍ الْحِمْصِيَّ، قَالَ: كَانَ ثَوْبَانُ يَقُولُ: مَا مِنْ رَجُلَيْنِ يَتَصَارَمَانِ فَوْقَ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ ، فَيَهْلِكُ أَحَدُهُمَا ، فَمَاتَا وَهُمَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الْمُصَارَمَةِ ، إِلا هَلَكَا جَمِيعًا ، وَمَا مِنْ جَارٍ يَظْلِمُ جَارَهُ وَيَقْهَرُهُ ، حَتَّى يَحْمِلَهُ ذَلِكَ عَلَى أَنْ يَخْرُجَ مِنْ مَنْزِلِهِ ، إِلا هَلَكَ . [قال الشيخ الألباني] : صحيح

127. "Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Tidaklah dua orang yang berseteru dengan saudaranya lebih dari 3 hari (yang mereka tidak mau menyapa satu sama lain), lalu salah satunya meninggal dunia, kemudian keduanya meninggal dalam kondisi tetap berseteru, maka kedua-duanya akan hancur (masuk neraka). Tidak ada seorang tetangga yang mendzolimi dan dia menyakiti tetangganya yang perbuatannya tersebut membuat tetangganya pindah / keluar dari rumahnya, kecuali orang itu akan hancur.” [shohih]

Atsar di menunjukan tentang kebinasaan bagi yang menzholimi dan menyakiti tetangga

(70) Bab tetangga yahudi

 ( بَابُ جَارِ الْيَهُودِيِّ )

Hadits ke 128 

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا بَشِيرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، وَغُلامُهُ يَسْلُخُ شَاةً ، فَقَالَ : يَا غُلامُ ، إِذَا فَرَغْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ : الْيَهُودِيُّ أَصْلَحَكَ اللَّهُ ؟ قَالَ : إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوصِي بِالْجَارِ ، حَتَّى خَشِينَا أَوْ رُئِينَا أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ . [قال الشيخ الألباني] : صحيح

128. “Dari Mujahid radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Pada suatu hari, aku berada bersama ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma. Ketika itu, budaknya sedang menguliti seekor kambing, maka ‘Abdullah berkata, “Wahai anak, kalau engkau selesai dari menguliti kambing itu, maka mulailah dengan tetangga kita yang Yahudi.” Berkata seorang lelaki dari suatu kaum, “Dimulai dari tetanggamu yang Yahudi? Semoga Allah memperbaikimu!” Lalu ‘Abdullah bin ‘Amr mengatakan, “Aku mendengar Rasul shallallahu ‘alaihi wasallamterus-menerus memberikan wasiat kepada kita, agar kita berbuat baik kepada tetangga, sehingga kita takut atau kita melihat jangan-jangan tetangga itu mendapatkan warisan.”[shohih]

Faidah hadits:

  • Betapa mulianya syariat islam dimana kita di perintahkan agar senantiasa berbuat baik kepada tetangga walaupun tetangga kita non muslim.

(71) Bab kemuliaan ( بَابُ الْكَرَمِ )

Imam Bukhari menyebutkan bab ini ingin menjelaskan kepada umat bagaimana islam memandang kehormatan bagi siapa saja yang beramal sholeh dan bertaqwa kepada Alloh subhaanaahu wata’ala.

Hadits ke 129 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ، سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ النَّاسِ أَكْرَمُ ؟ قَالَ : أَكْرَمُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاهُمْ ، قَالُوا : لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ ، قَالَ : فَأَكْرَمُ النَّاسِ يُوسُفُ نَبِيُّ اللَّهِ ابْنُ نَبِيِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ ، قَالُوا : لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ ، قَالَ : فَعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَبِ تَسْأَلُونِي ؟ قَالُوا : نَعَمْ ، قَالَ : فَخِيَارُكُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الإِسْلامِ إِذَا فَقِهُوا . [قال الشيخ الألباني] : صحيح

129. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: “Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallampernah ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?” Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah orang yang bertakwa.” Para sahabat berkata, “Bukanlah ini yang kami tanyakan.” Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Orang yang paling mulia adalah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, (beliau adalah) seorang Nabi Allah, anak Nabi Allah (Ya’qub ‘alaihis salam), anak (cucu) Kekasih Allah (Ibrahim ‘alaihis salam).” Para sahabat berkata, “Bukanlah ini yang kami tanyakan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Yang kalian tanyakan itu tentang kalangan bangsa Arab?” Mereka berkata, “Iya.” Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Orang yang paling baik di masa jahiliyah adalah orang yang paling baik di masa Islam kalau mereka itu berilmu (mengenal Islam).””[shohih]

Faidah hadits : 

  • Apabila seseorang bertanya kepada ustadz atau ahli ilmu,kemudian dijawab dan ternyata jawabannya tidak sesuai dengan maksud pertanyaannya,maka penanya harap memakluminya,karena bisa jadi ustadz kurang tepat memahami pertanyaan kita sehingga jawabannya pun bukan jawaban yang kita inginkan. Kalau seandainya masih ada waktu untuk ditanyakan lagi maka tanyakan lah dengan sejelas mungkin agar ustadz atau ahli ilmu bisa memahami pertanyaannya dan di jawab sesuai apa yang ditanyakannya. Sebagaiman sahabat dalam hadits ini.
  • Orang yang mulia atau orang yang baik dikalangan masyarakat atau bahkan garis keturunanya paling mulia,maka dia akan lebih mulia dan lebih baik lagi tatkala dia belajar atau berilmu tentang agama Alloh ini.
  • Tolak ukur kemulian atau kebaikan seseorang tatkala dia berilmu tentang agama lalu memgamalkannya.

(72) Bab berbuat baik kepada orang yang baik maupun jahat

 ( بَابُ الْإِحْسَانِ إِلَى الْبَرِّ وَالْفَاجِرِ )

Hasits ke 130 

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا سَالِمُ بْنُ أَبِي حَفْصَةَ، عَنْ مُنْذِرٍ الثَّوْرِيِّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ: هَلْ جَزَاءُ الإِحْسَانِ إِلا الإِحْسَانُ ، قَالَ : هِيَ مُسَجَّلَةٌ لِلْبَرِّ وَالْفَاجِرِ ، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ : قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ : مُسَجَّلَةٌ مُرْسَلَةٌ . [قال الشيخ الألباني] : حسن

130. “Dari Muhammad bin ‘Ali bin Al-Hanafiyyah, (tentang firman Allah): ”Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS Ar-Rahman [55]: 60) Dia berkata, “Balasan kebaikan untuk orang berbuat kebaikan itu adalah mutlak, baik itu untuk orang yang baik maupun untuk orang yang jahat. (Ketika orang itu berbuat baik, Allah akan balas kebaikan dia, dan sebaliknya.) Abu ‘Abdillah berkata, “Berkata Abu ‘Ubaid, “Balasan yang dikirimkan.”””[hasan]

Faidah hadits :

  • Apabila ada seorang muslim berbuat baik di dunia maka dia akan dibalas dengan kebaikan didunia dan disurga kelak akan dibalas dengan surganya Alloh ‘azza wajalla. Adapun orang kafir atau orang yang jahat apabila dia berbuat baik didunia maka dia juga akan dibalas dengan kebaikan didunia namun di akhirat dia tidak akan mendapat apa-apa. Sungguh Alloh maha adil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tafkhim dan tarqiq (huruf isti'la) || bag.1

Mad thobi'i dan mad badal

Mad shilah qosiroh dan mubaalaghoh