Kitab al adabul mufrad hadits ke 115-123 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah
Kitab Adabul mufrad
- Download dan simak kajiannya [ DISINI ]
(63) Bab tetangga yang paling baik
(باب خير الجيران)
Hadits ke 115
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ قَالَ: حَدَّثَنَا حَيْوَةُ قَالَ: أَخْبَرَنَا شُرَحْبِيلُ بْنُ شَرِيكٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ يُحَدِّثُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ» [قال الشيخ الألباني : صحيح]
115.“Dari ‘Abdullah bin Al-‘Amru bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah teman yang paling baik untuk temannya. Sebaik-baik tetangga adalah tetangga yang paling baik terhadap tetangganya.” [ berkata syaikh Al- bani : Shohih ]
Faidah hadits ini:
- Teman yang baik itu macam-macam mungkin yang kita pandang dia adalah teman yang buruk namun di sisi Allah dia adalah teman yang baik, begitu juga sebaliknya. Namun sejatinya ialah teman yang baik itu yang bisa menyelamat kan kita dari api neraka dan yang bisa mendekatkan kita dengan surga nya Allah subhaanahu wata’ala. Mungkin bagi sebagian orang tatkala ia punya teman yang selalu mengingatkan nya tentang kebaikan,dia anggap temannya itu sok alim,terlalu mengurusi urusan orang namun sejatinya ialah dia teman yang baik.
- Hendaklah kita berbuat baik terlebih dahulu kepada tetangga kita, mungkin bagi sebagian orang mereka suka membantu orang-orang di luar sana, tapu dia tidak membantu tetangganya. Dia dermawan diluar sana tapi bakhil terhadap tetangganya.
Al hasan al basri berkata: ” bertetangga yang baik itu bukan dengan kita tidak mengganggu tetangga, tapi bertetangga yang baik itu adalah kita bersabar tatkala kita diganggu oleh tetangga kita.
Hadits ke 116
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ قَالَ: حَدَّثَنِي خَمِيلٌ ، مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ : الْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ ، وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ . [قال الشيخ الألباني : صحيح لغيره]
“Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: Termasuk dari faktor yang mendukung kebahagiaan seorang Muslim, yaitu tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.” [ Berkata syaikh Al-bani : Shohih lighoirihi ]
Faidah hadits ini:
- Sejatinya kebahagian bagi seseorang itu adalah hati yang tentram atau jiwa yang damai, namun pada hadits ini Nabi menyampaikan bahwa salah satu faktor pendukung untuk bisa bahagia diantaranya ialah rumah yang luas dan Nabi tidak mengatakan rumah yang bagus tapi rumah yang luas. Dalam Islam, kita sangat dianjurkan untuk membangun rumah sebagai tempat istirahat ketika kita capek dan tempat tidur ketika kita ngantuk, dan sebagai tempat silaturahmi bagi sanak famili kita. Nabi Nuh ketika berada di atas perahu pada saat banjir besar memohon kepada Allah agar diberi tempat yang berkah. Ini menunjukkan bahwa tempat tinggal yang lapang dan berkah termasuk hal penting dalam hidup kita.
- Tetangga yang baik ini juga salah satu faktor pendukung dari kebahagian seseorang, bagaimana tidak setiap kali dia berpergian jauh dia bisa menitipkan rumah atau keluarganya ketetangga, setiap kali anak kita main kerumah tetangga akan merasa aman,nyaman bahkan kalau tetangga kita orang sholih atau ustadz maka anak kita akan mendapatkan ilmu dari tetangga yang sholih tersebut. Dan apabila kita akan beli rumah atau tanah sebelum dibeli hendaklah kita bertanya dulu kepada orang di sekitar apakah tetangga di rumah yang akan kita beli itu orang baik atau bukan. Karena tetangga ini akan memberi dampak baik atau buruk terhadap keluarga dan anak-anak kita,tetangga yang baik insya Alloh anak kita akan ikut baik dan begitu sebaliknya. Kehadiran teman dan tetangga dalam kehidupan kita sehari-hari sangat dibutuhkan. Islam sangat memperhatikan betul agar kita menjadi teman dan tetangga yang baik bagi orang lain, dan kita akan sangat beruntung jika memiliki teman dan tetangga yang baik kepada kita. Karena itu, kita dituntut untuk menghormati teman dan tetangga kita dengan harapan agar Allah memberikan teman dan tetangga yang baik kepada kita. Dalam hadis riwayat Imam Buhari dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda; مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya.”
- Kendaraan yang nyaman juga salah satu faktor dari kebahagian seseorang, dan kendaraan yang nyaman ini bukan berarti kendaraan yang bagus dan mahal tapi kendaraan yang nyaman ini kendaraan yang tidak menyusahkan pemiliknya, yang tidak sering rusak ketika berkendara. Terkadang kendaraan yang mewah dan mahal tidak membuat pemiliknya bahagia, kenapa? Karena bisa saja dia takut kalau kendaraannya ada yang nyuri, takut kesenggol kendaraan lain dan akhirnya rusak dan sebagainya.
Ketiga perkara tersebut perlu kita upayakan ada dalam kehidupan kita agar kita bisa bahagia. Dalam Islam, mencari kebahagiaan di dunia tidak dilarang selama diusahakan dengan cara yang baik dan sesuai aturan syariat.
(65) Bab tetangga yang buruk
( بَابُ الْجَارِ السُّوءِ)
Hadits ke 117
حَدَّثَنَا صَدَقَةُ قَالَ: أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ هُوَ ابْنُ حَيَّانَ، عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ، عَنْ سَعِيدٍ،نْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : كَانَ مِنْ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ فِي دَارِ الْمُقَامِ فَإِنَّ جَارَ الدُّنْيَا يَتَحَوَّلُ. [قال الشيخ الألباني : حسن ]
117. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma: “Termasuk dari doa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Allah, aku berlindung kepadamu dari tetangga yang buruk / jahat di tempat tinggal, karena sesungguhnya tetangga di dunia ini akan berganti.”” [ Berkata syaikh al-bani : hasan ]
Hadits di atas merupakan (Doa berlindung dari tetangga yang buruk)
Hadits ke 118
حَدَّثَنَا مَخْلَدُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَغْرَاءَ قَالَ: حَدَّثَنَا بُرَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَقْتُلَ الرَّجُلُ جَارَهُ وَأَخَاهُ وَأَبَاهُ» [قال الشيخ الألباني : حسن ]
118. ” Dari Abu musa al ‘asyari rodhiyalloohu ‘anhu ; Bersabda Rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam : “Tidak akan tegak hari kiamat sampai seseorang membunuh tetangganya,saudaranya dan bapak nya”” [ berkata syaikh al-bani : Hasan ]
Orang yang membunuh tetangga,saudara dan ayah nya ini tanda tegaknya hari kiamat.
(66) Bab larangan mengganggu tetangga
( بَابُ لَا يُؤْذِي جَارَهُ )
Hadits ke 119
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ قَالَ: حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى مَوْلَى جَعْدَةَ بْنِ هُبَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ فُلانَةً تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ ، وَتَفْعَلُ ، وَتَصَّدَّقُ ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لا خَيْرَ فِيهَا ، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ ، قَالُوا : وَفُلانَةٌ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ ، وَتَصَّدَّقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلا تُؤْذِي أَحَدًا ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
119. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma: “Pernah dikatakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, ada seorang perempuan yang rajin tahajud, rajin puasa sunnah, banyak kebaikannya, dan dia bersedekah, tetapi perempuan ini suka menyakiti tetangganya (dengan lisannya).” Rasulullah mengomentari, “Perempuan itu tidak ada kebaikan pada dirinya. Dia termasuk penghuni neraka.” Mereka berkata, “Ada seorang perempuan lain yang shalatnya hanya yang lima waktu, menyedekahkan sesuatu yang sedikit, tapi dia tidak pernah menyakiti tetangganya?” Rasulullah mengomentari, “Dia dari penduduk surga.””
Faidah hadits :
- Dianjurkan bertanya tentang kebaikan kepada orang yang ahli dalam bidang tersebut. 2- Ketika bertanya mengenai sifat buruk sesorang maka jangan sebut namanya. 3- Akhlak bagus adalah prioritas utama bagi seorang muslim. 4- Perintah untuk menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain atau tetangga. Lisan yang menyakiti orang lain atau tetangga bisa merusak amal seorang muslim.
Hadit ke 120
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زِيَادٍ قَالَ: حَدَّثَنِي عُمَارَةُ بْنُ غُرَابٍ، أَنَّ عَمَّةً لَهُ حَدَّثَتْهُ، أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَقَالَتْ: إِنَّ زَوْجَ إِحْدَانَا يُرِيدُهَا فَتَمْنَعُهُ نَفْسَهَا، إِمَّا أَنْ تَكُونَ غَضَبَى أَوْ لَمْ تَكُنْ نَشِيطَةً، فَهَلْ عَلَيْنَا فِي ذَلِكَ مِنْ حَرَجٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ، إِنَّ مِنْ حَقِّهِ عَلَيْكِ أَنْ لَوْ أَرَادَكِ وَأَنْتِ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعِيهِ، قَالَتْ: قُلْتُ لَهَا: إِحْدَانَا تَحِيضُ، وَلَيْسَ لَهَا وَلِزَوْجِهَا إِلَّا فِرَاشٌ وَاحِدٌ أَوْ لِحَافٌ وَاحِدٌ، فَكَيْفَ تَصْنَعُ؟ قَالَتْ: لِتَشُدَّ عَلَيْهَا إِزَارَهَا ثُمَّ تَنَامُ مَعَهُ، فَلَهُ مَا فَوْقَ ذَلِكَ، مَعَ أَنِّي سَوْفَ أُخْبِرُكِ مَا صَنَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّهُ كَانَ لَيْلَتِي مِنْهُ، فَطَحَنْتُ شَيْئًا مِنْ شَعِيرٍ، فَجَعَلْتُ لَهُ قُرْصًا، فَدَخَلَ فَرَدَّ الْبَابَ، وَدَخَلَ إِلَى الْمَسْجِدِ – وَكَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ أَغْلَقَ الْبَابَ، وَأَوْكَأَ الْقِرْبَةَ، وَأَكْفَأَ الْقَدَحَ، وَأطْفَأَ الْمِصْبَاحَ – فَانْتَظَرْتُهُ أَنْ يَنْصَرِفَ فَأُطْعِمُهُ الْقُرْصَ، فَلَمْ يَنْصَرِفْ، حَتَّى غَلَبَنِي النَّوْمُ، وَأَوْجَعَهُ الْبَرْدُ، فَأَتَانِي فَأَقَامَنِي ثُمَّ قَالَ: «أَدْفِئِينِي أَدْفِئِينِي» ، فَقُلْتُ لَهُ: إِنِّي حَائِضٌ، فَقَالَ: «وَإِنْ، اكْشِفِي عَنْ فَخِذَيْكِ» ، فَكَشَفْتُ لَهُ عَنْ فَخِذَيَّ، فَوَضَعَ خَدَّهُ وَرَأْسَهُ عَلَى فَخِذَيَّ حَتَّى دَفِئَ. فَأَقْبَلَتْ شَاةٌ لِجَارِنَا دَاجِنَةٌ فَدَخَلَتْ، ثُمَّ عَمَدَتْ إِلَى الْقُرْصِ فَأَخَذَتْهُ، ثُمَّ أَدْبَرَتْ بِهِ. قَالَتْ: وَقَلِقْتُ عَنْهُ، وَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَادَرْتُهَا إِلَى الْبَابِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «خُذِي مَا أَدْرَكْتِ مِنْ قُرْصِكِ، وَلَا تُؤْذِي جَارَكِ فِي شَاتِهِ» [قال الشيخ الألباني] : ضعيف
120."Umarah bin Ghurab meriwayatkan bahwa seorang bibinya mengatakan kepadanya bahwa ia bertanya kepada Aisyah, Umm al-Mu'minin, "Jika suami seorang wanita menginginkannya dan dia menolak untuk menyerahkan dirinya kepadanya karena marah atau tidak bersemangat, apakah ada yang salah dalam hal itu?" "Ya," jawabnya. "Sebagian dari haknya atasmu adalah jika dia menginginkanmu ketika kamu sedang berada di atas pelana, kamu tidak boleh menolaknya." Dia berkata, "Aku juga bertanya kepadanya, 'Jika salah satu dari kita sedang haid dan dia dan suaminya hanya memiliki satu penutup, apa yang harus dia lakukan?'" Dia menjawab, 'Dia harus membungkus dirinya dengan kainnya dan tidur bersamanya. Dia bisa mendapatkan apa yang ada di atasnya. Akan kuceritakan apa yang dilakukan Nabi, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, pada suatu malam bersamanya. Aku telah memasak jelai dan membuat roti untuknya. Beliau masuk, berhenti di pintu, lalu masuk ke masjid. Ketika beliau ingin tidur, beliau menutup pintu, mengikat kantung air, membalikkan cangkir, dan mematikan lampu. Aku menunggunya dan beliau memakan roti itu. Beliau tidak pergi sampai aku tertidur. Kemudian beliau merasa kedinginan dan datang membangunkanku. "Hangatkan aku!" "Hangatkan aku!" katanya. Aku berkata, "Aku sedang menstruasi." Dia berkata, "Kalau begitu, buka pahamu," jadi aku membuka pahaku dan dia meletakkan pipi dan kepalanya di pahaku sampai dia hangat. Kemudian seekor domba peliharaan milik tetangga kami datang. Aku pergi dan mengambil beban itu. Aku mengganggu Nabi, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, dan beliau terbangun, jadi aku mengejar domba itu sampai ke pintu. Nabi, semoga Allah memberinya berkah dan keselamatan, bersabda, "Ambillah apa yang kau dapatkan dari rotimu dan janganlah melukai domba tetanggamu."(Dhoif)
Hadits ke 121
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ أَبُو الرَّبِيعِ قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا الْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ» [قال الشيخ الألباني : صحيح ]
121. “Dari Abu Huroiroh, bahwasannya Rosululloohu shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda : Tidak masuk surga bagi orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya” [ berkata syaikh al-bani : Shohih ]
Faidah hadits ini :
- Tetangga menjadi penentu bagi seorang muslim apakah ia masuk surga atau tidak, pada hadits yang lalu di sebutkan bahwa dia tidak mengganggu atau menyakit tetangga hanya menutup pintu untuk tetangga maka dia ini sudah tercela apalagi bagi orang yang suka mengaggu atau menyakiti tetangga.
( بَابُ لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسَنِ شَاةٍ )
Hadits ke 122
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُعَاذٍ الْأَشْهَلِيِّ، عَنْ جَدَّتِهِ، أَنَّهَا قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا نِسَاءَ الْمُؤْمِنَاتِ ، لا تَحْقِرَنَّ امْرَأَةٌ مِنْكُنَّ لِجَارَتِهَا ، وَلَوْ كُرَاعُ شَاةٍ مُحَرَّقٍ .[قال الشيخ الألباني : صحيح ]
122. “Dari nenek ‘Amr bin Mu’adz Al-Asyhali radhiyallahu ‘anhuma, telah berkata kepadaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai wanita-wanita yang beriman, janganlah seseorang di antara kalian menghina pemberian tetangganya walaupun pemberian itu hanya kaki kambing yang dibakar.”” [ berkata syaikh Al-bani : Shohih ]
Hadits ke 123
حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ، يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ، لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسَنَ شَاةٍ» [قال الشيخ الألباني] : صحيح
123. “Dari Abu huroiroh ; Bersabda Nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam : Wahai wanita-wanita muslimat ! , Wahai wanita-wanita muslimat ! Janganlah tetangga itu menghina pemberian tetangganya walaupun hanya kikil(bagian dari ujung kaki kambing)” [ berkata syaikh al-bani : shohih ]
Faidah hadits 122 -123:

Komentar