Kitab al adabul mufrad haadits ke 107-114 | Ustadz Dr.Syafiq riza basalamah
Kitab Adabul mufrad
- Silahkan download kajiannya [ DISINI ]
( 58) Bab Memberikan hadiah pada tetangga yang terdekat pintunya
(باب يهدى إلى أقربهم)
Hadits ke 107
حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عِمْرَانَ قَالَ: سَمِعْتُ طَلْحَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ:يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ ، فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي ؟ قَالَ : إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا – صحيح
1067.“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku memiliki 2 tetangga, kepada yang mana yang aku harus beri hadiah (terlebih dahulu)? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenjawab, “Kepada pintu yang lebih dekat dengan rumahmu.” [Shohih]
Hadits ke 108
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ – رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَيْمِ بْنِ مُرَّةَ – عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي؟ قَالَ: «إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا» صحيح
108.“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku memiliki 2 tetangga, kepada yang mana yang aku harus beri hadiah (terlebih dahulu)? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammenjawab, “Kepada pintu yang lebih dekat dengan rumahmu.”[Shohih]
Faidah hadits :
- Hendaknya seorang muslim ketika akan mengerjakan suatu amalan maka selayaknya dia bertanya dulu tentang ilmunya. – Al hafizh ibnu hajr al astqolani menjelaskan diantara hikmah Rasulullah memerintahkan memberikan hadiah kepada tentangga yang lebih dekat dulu yaitu karena tetangga yang dekat dia yang kebih tau tentang kita,ketika kita masuk atau keluar membawa makanan maka dia yang pertama melihat,dia yang pertama menciaum aroma makanan kita atau tetangga dekatlah yang pertama membantu kita ketika terkena musibah.
(59)Bab berbuat baik pada tetangga yg terdekat
( بَابُ الْأَدْنَى فَالْأَدْنَى مِنَ الْجِيرَانِ )
Hadits ke 109
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ قَالَ: حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ الْحَسَنِ، أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْجَارِ ، فَقَالَ : أَرْبَعِينَ دَارًا أَمَامَهُ ، وَأَرْبَعِينَ خَلْفَهُ ، وَأَرْبَعِينَ عَنْ يَمِينِهِ ، وَأَرْبَعِينَ عَنْ يَسَارِهِ – حسن
109.“Dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah: “Al-Hasan Al-Bashri pernah ditanya tentang tetangga (konteks tetangga sampai mana?). Beliau menjawab, “Tetangga itu adalah 40 rumah dari seluruh penjuru: depan, belakang, kanan, dan kiri.”[Hasan]
Hadits ke 110
قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ: أَخْبَرَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَلْقَمَةُ بْنُ بَجَالَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: وَلَا يَبْدَأُ بِجَارِهِ الْأَقْصَى قَبْلَ الْأَدْنَى، وَلَكِنْ يَبْدَأُ بِالْأَدْنَى قَبْلَ الْأَقْصَى -ضعيف
110.“Dari Abu Hurairah berkata : “Janganlah memulai berbuat baik kepada tetangga yang jauh sebelum yang dekat, tapi mulai lah berbuat baik pada tetangga yang dekat sebelum tetangga yang jauh” [Dhoif]
BAB KE-60: Bab barangsiapa yang menutup pintu(tidak peduli) atas tetangganya
( بَابُ مَنْ أَغْلَقَ الْبَابَ عَلَى الْجَارِ )
Hadits ke 111
حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: لَقَدْ أَتَى عَلَيْنَا زَمَانٌ ، أَوْ قَالَ : حِينٌ وَمَا أَحَدٌ أَحَقُّ بِدِينَارِهِ وَدِرْهَمِهِ مِنْ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ ، ثُمَّ الآنَ الدِّينَارُ وَالدِّرْهَمُ أَحَبُّ إِلَى أَحَدِنَا مِنْ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ ، سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : كَمْ مِنْ جَارٍ مُتَعَلِّقٌ بِجَارِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ : يَا رَبِّ ، هَذَا أَغْلَقَ بَابَهُ دُونِي ، فَمَنَعَ مَعْرُوفَهُ – حسن لغيره
111.“Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: “Telah datang kepada kami suatu zaman / masa, di mana tidak ada seorang yang lebih berhak untuk mendapatkan uang dirham dan dinar daripada saudaranya yang Muslim (masa para sahabat Nabi Muhammad yang mulia). Sekarang (masa setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), kemudian datang masa yang orang itu lebih cinta kepada uangnya (dirham dan dinarnya) daripada kepada saudaranya sesama Muslim. Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda, “Berapa banyak tetangga pada hari kiamat yang akan bergelantungan memegangi tetangganya, seraya berkata (kepada Allah), “Wahai Rabb-ku, orang ini yang menutup pintunya kepadaku dan dia menghalangi kebaikannya dariku (tidak pernah membantuku).”[Hasan lighoirihi]
Faidah hadits :
- Dahulu di masa para sahabat Nabi mereka sangat perhatian kepada sesama muslim di banding terhadap dinar atau dirham. Akan tetapi setelah wafatnya Rasulullah maka di masa itu telah muncul orang yang tidak lagi perhatian terhadap sesama muslim.
- Dianjurkan nya untuk berbuat baik,membantu,menolong kepada tetangga.
- Di hari kiamat akan di adili orang yang menutup pintu untuk tetangga nya yakni dia tidak peduli terhadap tetangga,tidak perhatian terhadap tetangganya dan lain-lain.
(61) Bab tidak boleh dia kenyang sedangkan tetangganya merasa lapar
( بَابُ لَا يَشْبَعُ دُونَ جَارِهِ )
Hadits ke 112
ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي بَشِيرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُسَاوِرِ قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُخْبِرُ ابْنَ الزُّبَيْرِ يَقُولُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ» صحيح
112.“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda: “Tidak disebut seorang mukmin yang dia kenyang sedangkan tetangganya lapar.”[ Shahih ]
Faidah hadits :
- Dianjurkan nya untuk banyak bersedekah,memberi makan kepada tetangga yang mempunyai kekeurangan. – Ini adalah salah satu ajaran islam untuk menghilangkan kemiskinan di masyarakat dengan di mulai mereka saling memerhatikan tetangganya.
(62) Bab memperbanyak kuah masakan untuk membagikan pada tetangga
(بَابُ يُكْثِرُ مَاءَ الْمَرَقِ فَيَقْسِمُ فِي الْجِيرَانِ)
Hadits ke 113
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ: أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاثٍ : أَسْمَعُ وَأُطِيعُ وَلَوْ لِعَبْدٍ مُجَدَّعِ الأَطْرَافِ ، وَإِذَا صَنَعْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ ، فَأَصِبْهُمْ مِنْهُ بِمَعْرُوفٍ ، وَصَلِّ الصَّلاةَ لِوَقْتِهَا ، فَإِنْ وَجَدْتَ الإِمَامَ قَدْ صَلَّى ، فَقَدْ أَحْرَزْتَ صَلاتَكَ ، وَإِلا فَهِيَ نَافِلَةٌ – صحيح
113.“Dari Abi Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi wasiat kepadaku dengan 3 perkara: Yang pertama, agar mendengar dan mentaati walau yang memimpin adalah seorang budak yang jari-jarinya terputus (cacat). Yang kedua, kalau engkau memasak daging yang berkuah maka perbanyak kuahnya, kemudian lihatlah kepada tetangga-tetanggamu, lalu kau bagi kepada mereka. Dan Sholatlah tepat waktu dan jika engkau mendapati imam shalat berjamaah, sedangkan engkau sudah sholat (lalu engkau sholat lagi bersama imam) maka dihitung sebagai saholat sunnah saja “ [Shahih]
Faidah hadits :
- Disunnahkan untuk menasehati orang yang dicintai dan sahabat baik dengan nasihat yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat mereka.
- Di wajibkan untuk taat kepada pemimpin selama perintah nya tidak keluar dari syariat Allah.
- Jangan meremehkan amalan kebaikan sekecil apapun,sebagaimana dalam hadits ini hanya sekedar memperbanyak kuah masakan.
- Di perintahkan untuk Sholat tepat waktunya.
- Jika ada Imam sholat yang zholim yakni dia suka mengulur-ngulur waktu sholat tanpa uzur maka kita di perintahkan untuk sholat tepat waktu baik itu di rumah dan jika kita pergi ke masjid lalu mendapati imam sedang sholat berjamaah lalu kita ikut sholat lagi dan sholat kita yang bersama imam itu dihitung sunnah saja. Sebagai mana dalam riwayat lain dari artikel rumaysho Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, « كَيْفَ أَنْتَ إِذَا كَانَتْ عَلَيْكَ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا أَوْ يُمِيتُونَ الصَّلاَةَ عَنْ وَقْتِهَا ». قَالَ قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِى قَالَ « صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ » “Bagaimana pendapatmu jika engkau dipimpin oleh para penguasa yang suka mengakhirkan shalat dari waktunya, atau meninggalkan shalat dari waktunya?” Abu Dzarr berkata, “Aku berkata “Lantas apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lakukanlah shalat tepat pada waktunya. Apabila engkau mendapati shalat bersama mereka, maka shalatlah (bersamanya). Sesungguhnya ia dihitung bagimu sebagai shalat sunnah.” (HR. Muslim, no. 648).
Ada riwayat tambahan,
وَلاَ تَقُلْ إِنِّى قَدْ صَلَّيْتُ فَلاَ أُصَلِّى
“Janganlah mengatakan, aku telah shalat, maka aku tak mau shalat lagi.” (HR. Muslim, no. 648).
Sumber https://rumaysho.com/16428-hukum-jamaah-kedua-dan-mengikuti-shalat-jamaah-dua-kali.html
Hadits ke 114
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الصَّمَدِ الْعَمِّيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَ الْمَرَقَةِ، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ، أَوِ اقْسِمْ فِي جِيرَانِكَ» صحيح
114.“Dari Abu dzar berkata : Bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : Wahai Abu dzar !! Bila engkau memasak daging maka perbanyaklah air kuahnya,lalu engkau perhatikan tetanggamu atau engkau bagi kepada tetanggamu” [Shahih]

Komentar
Posting Komentar